Kebakaran Hutan Dan Lahan (karhutla) – kembali menjadi perhatian setelah aktivitas kebakaran meningkat di sejumlah daerah Indonesia. Kondisi tersebut tidak hanya menyebabkan kerusakan lingkungan, tetapi juga memengaruhi kualitas udara dan aktivitas masyarakat di wilayah terdampak.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengendalikan kebakaran dengan mengerahkan personel maupun peralatan pemadaman. Namun, luasnya wilayah terdampak serta karakteristik lahan membuat proses penanganan karhutla masih menghadapi berbagai kendala.
Data pada 21 Agustus 2026 menunjukkan terdapat sekitar 8.638 titik panas yang terpantau di seluruh wilayah Kalimantan. Sementara itu, total lahan yang terbakar di Indonesia sepanjang Januari hingga Juli 2026 di laporkan mencapai 202.010,96 hektare.
Kalimantan Barat menjadi salah satu daerah dengan area terdampak cukup luas. Wilayah tersebut mencatat sekitar 38.310,86 hektare lahan terbakar. Adapun Kalimantan Tengah berada di bawahnya dengan luas kebakaran mencapai 7.634,46 hektare.
Karhutla Mulai Berdampak pada Aktivitas Masyarakat
Besarnya area yang terdampak kebakaran di pengaruhi oleh sejumlah kondisi. Keberadaan lahan gambut menjadi salah satu tantangan karena api dapat bertahan dan menyebar di bawah permukaan tanah.
Selain itu, penyebaran titik panas di wilayah yang luas membuat proses pemadaman membutuhkan sumber daya besar. Keterbatasan pompa air dan armada pemadam juga dapat menghambat upaya pengendalian kebakaran.
Praktik membuka lahan menggunakan api turut menjadi faktor yang perlu mendapat perhatian. Ketika kondisi cuaca kering, api berpotensi menyebar dengan cepat dan sulit di kendalikan.
Dampaknya kini mulai di rasakan masyarakat. Kabut asap yang menyelimuti sejumlah daerah mengganggu kegiatan sehari-hari. Ribuan siswa bahkan harus menjalani kegiatan belajar secara daring akibat kondisi udara yang memburuk.
Asap dari kebakaran juga di laporkan bergerak melewati batas negara hingga mencapai Sarawak, Malaysia. Situasi tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak hanya terbatas pada kawasan tempat kebakaran terjadi.
Kualitas Udara Jakarta Masuk Kategori Tidak Sehat bagi Kelompok Sensitif
Peningkatan aktivitas karhutla berlangsung ketika sejumlah kota di Indonesia menghadapi persoalan kualitas udara. Berdasarkan pemantauan IQAir pada Rabu, 26 Agustus 2026 pukul 11.30 WIB, Jakarta menempati urutan ke-10 dalam daftar kota dengan kualitas udara terburuk secara global.
Pada saat pemantauan tersebut, indeks kualitas udara Jakarta tercatat sebesar 102 AQI US. Nilai itu termasuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.
Konsentrasi particulate matter 2.5 atau PM2.5 di Jakarta mencapai 35,5 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Jumlah tersebut sekitar 2,4 kali lebih tinggi dibandingkan pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk paparan selama 24 jam sebesar 15 µg/m³.
PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Paparan terhadap partikel ini berkaitan dengan peningkatan risiko berbagai gangguan kesehatan, seperti asma, penyakit jantung, stroke, serta penyakit paru-paru.

Ilustrasi kota dengan kualitas udara buruk.
Dari Mana Polusi PM2.5 Berasal?
Sumber PM2.5 cukup beragam dan banyak berkaitan dengan aktivitas pembakaran. Emisi kendaraan bermotor, kegiatan industri, pembangkit listrik, penggunaan kompor, pembakaran kayu, dan asap rokok dapat menghasilkan partikel tersebut.
Kebakaran hutan dan lahan juga menjadi salah satu sumber PM2.5. Ketika kebakaran meluas, asap dapat terbawa angin menuju daerah lain sehingga berpotensi memperburuk kondisi udara jauh dari lokasi munculnya api.
Tidak seluruh PM2.5 berasal dari proses pembakaran. Partikel berukuran kecil tersebut juga dapat berasal dari debu, jelaga, garam yang terbawa angin, kotoran, spora tumbuhan, hingga serbuk sari.
Karena itu, meningkatnya aktivitas karhutla menjadi salah satu faktor yang perlu di perhatikan ketika membahas perubahan kualitas udara di sejumlah daerah Indonesia.
Pontianak Catat AQI Tertinggi di Indonesia
Data real-time IQAir pada 25 Agustus 2026 memperlihatkan sejumlah kota di Indonesia memiliki tingkat pencemaran udara yang perlu di waspadai. Pontianak berada pada posisi teratas dengan indeks mencapai 536 AQI US.
Nilai tersebut terpaut cukup jauh di bandingkan daerah lain. Jambi berada di posisi berikutnya dengan AQI 212, sementara Palangkaraya mencatat indeks 197.
Berikut 10 kota dengan kualitas udara terburuk di Indonesia berdasarkan data AQI US tersebut:
- Pontianak — AQI 536
- Jambi — AQI 212
- Palangkaraya — AQI 197
- Palembang — AQI 176
- Bandung — AQI 142
- Serpong — AQI 137
- Tangerang Selatan — AQI 124
- Pekanbaru — AQI 116
- Tangerang — AQI 109
- Jakarta — AQI 101
Sebagai perbandingan, Tangerang Selatan tercatat sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di Indonesia pada 2025 menurut IQAir, dengan nilai AQI 140.
Kondisi Udara Pontianak Perlu Diwaspadai
Dari daftar tersebut, Pontianak menunjukkan kondisi paling mengkhawatirkan. Nilai AQI US sebesar 536 telah melampaui batas kategori berbahaya, yang berada pada tingkat lebih dari 300.
Memburuknya kualitas udara di Pontianak berkaitan dengan kondisi karhutla yang melanda Kalimantan Barat. Luasnya area kebakaran berpotensi menghasilkan asap dan meningkatkan konsentrasi polutan di udara.
Meski demikian, data kualitas udara yang di tampilkan merupakan hasil pemantauan secara real-time. Artinya, angka AQI dan posisi setiap kota dapat berubah dalam waktu relatif singkat karena di pengaruhi konsentrasi polutan, kondisi cuaca, arah angin, serta perkembangan kebakaran.
Situasi karhutla yang masih terjadi menunjukkan pentingnya pengendalian kebakaran secara berkelanjutan. Selain menekan kerusakan lingkungan, langkah tersebut diperlukan untuk mengurangi paparan asap dan menjaga kualitas udara bagi masyarakat di wilayah terdampak.