Peternak Puyuh – Budidaya burung puyuh menjadi salah satu peluang usaha di sektor peternakan yang masih memiliki prospek menjanjikan. Meski demikian, usaha ini tidak terlepas dari berbagai tantangan, mulai dari serangan penyakit hingga fluktuasi harga hasil panen. Hal tersebut pernah di alami Suprianto, peternak puyuh asal Dusun Ganjuran 2, Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Perjalanan usahanya tidak selalu berjalan mulus. Setelah mengalami kegagalan hingga kehilangan seluruh modal, ia memilih bangkit dan membangun kembali usahanya secara bertahap. Dengan dukungan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR), kini Suprianto berhasil mengembangkan peternakan yang menampung sekitar 11.000 ekor burung puyuh dan terus berupaya meningkatkan kapasitas produksinya.

Rutinitas Mengelola Ribuan Burung Puyuh

Setiap pagi, Suprianto memulai aktivitasnya dengan membersihkan kandang yang berada di belakang rumahnya. Setelah memastikan kondisi kandang tetap bersih, ia mengumpulkan kotoran puyuh untuk kemudian di kemas dan di kirim kepada pelaku budidaya ikan sebagai bahan baku pakan alami.

Selanjutnya, telur-telur puyuh yang telah dipanen disusun rapi ke dalam rak khusus sebelum di kirim ke pedagang pasar tradisional maupun mitra distribusi di berbagai daerah.

Rutinitas tersebut dilakukan setiap hari demi menjaga kualitas produksi sekaligus memastikan kesehatan ribuan burung puyuh yang dipeliharanya. Lingkungan peternakan yang bersih menjadi salah satu faktor penting untuk mengurangi risiko penyebaran penyakit.

Pernah Gagal Hingga Kehilangan Seluruh Modal

Perjalanan usaha Suprianto di mulai pada 2013 setelah memutuskan meninggalkan pekerjaannya di Jakarta dan kembali ke kampung halaman. Uang pesangon yang di miliki di gunakan sebagai modal awal untuk memelihara sekitar 3.000 ekor burung puyuh petelur.

Namun, minimnya pengalaman dalam mengelola peternakan membuat usahanya menghadapi berbagai kendala. Burung puyuh terserang penyakit akibat lemahnya sistem biosekuriti di kandang. Banyak ternak yang mati sehingga usaha tersebut mengalami kerugian besar.

Dalam kurun waktu sekitar dua tahun, seluruh modal yang telah di tanamkan habis. Selama masa tersebut, Suprianto bertahan hidup dengan menjalankan usaha budidaya ikan sebagai sumber penghasilan alternatif.

Meski mengalami kegagalan besar, ia tidak menyerah. Pengalaman tersebut justru menjadi pelajaran berharga dalam memahami teknik pemeliharaan yang lebih baik.

Memulai Kembali Usaha dengan Strategi Baru

Saat pandemi Covid-19 mulai berlangsung, Suprianto kembali mencoba peruntungan di bidang budidaya puyuh petelur. Kali ini ia memilih langkah yang lebih hati-hati dengan memulai usaha menggunakan sekitar 1.000 ekor burung puyuh.

Berbekal pengalaman sebelumnya, ia menerapkan aturan yang lebih ketat terhadap kebersihan kandang dan membatasi akses keluar masuk orang ke area peternakan. Langkah tersebut dilakukan untuk meminimalkan potensi penyebaran virus maupun penyakit yang dapat menyerang ternak.

Pendekatan yang lebih disiplin tersebut membuahkan hasil. Populasi burung puyuh terus bertambah secara bertahap, sementara hasil produksi telur mulai memberikan keuntungan bagi usaha yang di jalankannya.

Peternak puyuh mengemas telur hasil panen dari ribuan burung puyuh di kandang

Suprianto, pengusaha budidaya puyuh petelur di Borobudur.

KUR Menjadi Modal Pengembangan Peternakan

Meskipun usaha mulai berkembang, keuntungan yang di peroleh belum cukup untuk memperbesar skala peternakan. Karena itu, Suprianto mencari alternatif pembiayaan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Setelah memperoleh informasi mengenai fasilitas pembiayaan tersebut, ia mengajukan pinjaman dengan memenuhi seluruh persyaratan administrasi yang di butuhkan.

Pinjaman pertama senilai Rp50 juta di manfaatkan untuk meningkatkan kapasitas usaha. Perkembangan bisnis yang cukup baik membuat pinjaman tersebut dapat di lunasi lebih cepat di bandingkan tenor yang di berikan.

Keberhasilan tersebut mendorongnya kembali memanfaatkan fasilitas KUR dengan nominal Rp100 juta. Pembiayaan kedua juga berhasil di selesaikan dalam waktu sekitar satu tahun.

Terbaru, Suprianto kembali memperoleh pembiayaan sebesar Rp150 juta. Dana tersebut di rencanakan untuk membangun kandang baru sekaligus menambah populasi burung puyuh hingga mencapai target sekitar 20.000 ekor.

Saat ini, peternakannya telah berkembang menjadi sekitar 11.000 ekor dengan kapasitas produksi yang terus meningkat.

Produksi Telur Tinggi, Namun Harga Pasar Menurun

Dalam operasional sehari-hari, Suprianto di bantu oleh dua orang karyawan. Ribuan burung puyuh yang di pelihara mampu menghasilkan sekitar 120 kilogram telur setiap hari.

Hasil panen tersebut di pasarkan ke sejumlah pasar tradisional di wilayah Borobudur serta distributor utama di Yogyakarta. Pengiriman dalam jumlah besar dilakukan secara rutin setiap minggu untuk memenuhi permintaan pasar.

Meski produksi berjalan stabil, tantangan terbesar justru datang dari sisi pemasaran. Selama beberapa bulan terakhir, harga telur puyuh mengalami penurunan cukup tajam sehingga berdampak terhadap pendapatan peternak.

Kondisi tersebut menyebabkan kerugian operasional yang nilainya mencapai puluhan juta rupiah setiap bulan. Sebelumnya, usaha ini mampu menghasilkan laba bersih sekitar Rp25 juta per bulan ketika harga telur masih berada pada tingkat yang menguntungkan.

Menurut Suprianto, perubahan pola distribusi di pasar diduga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi harga jual di tingkat peternak. Namun, ia mengaku belum mengetahui secara pasti penyebab utama kondisi tersebut.

Persyaratan Mengakses Program KUR

Pihak BRI menjelaskan bahwa pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah yang ingin memperoleh fasilitas Kredit Usaha Rakyat harus memenuhi sejumlah ketentuan.

Beberapa persyaratan utama meliputi usaha yang telah berjalan minimal satu tahun, tidak memiliki pinjaman produktif di lembaga keuangan lain, serta lolos survei kelayakan usaha yang dilakukan oleh pihak bank.

Selain itu, calon debitur juga perlu menyiapkan dokumen administrasi seperti KTP, Kartu Keluarga, surat keterangan usaha, serta memiliki riwayat kredit yang baik.

Melalui proses tersebut, pihak bank dapat menilai kemampuan usaha sekaligus menentukan besaran pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan pelaku UMKM.

Konsistensi Menjadi Kunci Bertahan

Perjalanan Suprianto menunjukkan bahwa membangun usaha peternakan membutuhkan kesabaran, disiplin, dan kemauan untuk terus belajar dari pengalaman. Kegagalan yang pernah di alami tidak membuatnya berhenti, tetapi justru menjadi bekal untuk memperbaiki sistem pengelolaan usaha.

Dengan dukungan pembiayaan yang tepat serta manajemen peternakan yang lebih baik, usaha budidaya puyuh yang sempat runtuh kini kembali berkembang. Meski masih menghadapi tantangan berupa fluktuasi harga dan kondisi pasar, Suprianto tetap optimistis dapat memperluas peternakannya hingga mencapai target populasi puluhan ribu ekor.

Kisah ini menjadi contoh bahwa ketekunan, evaluasi berkelanjutan, dan akses terhadap pembiayaan produktif dapat membantu pelaku UMKM bangkit dari keterpurukan dan membangun usaha yang lebih berkelanjutan.