Konflik Iran AS kembali menjadi sorotan dunia. Ketegangan pun meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melancarkan serangan balasan ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait, Yordania, dan Bahrain. Sebelumnya, serangan udara AS menghantam kawasan permukiman di Pulau Qeshm. Akibatnya, pasangan suami istri beserta seorang anak balita meninggal dunia. Oleh karena itu, aksi saling balas tersebut memicu kekhawatiran internasional. Selain itu, banyak negara mulai mencemaskan stabilitas kawasan dan pasokan energi dunia.
Kronologi Serangan Balasan Iran
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa serangan udara AS merusak sejumlah rumah warga di Pulau Qeshm. Dalam insiden itu, sopir taksi Qeysar Jafari, istrinya Zahra Jafari, dan putra mereka yang masih berusia dua tahun menjadi korban jiwa.
Selanjutnya, Baghaei menyampaikan pernyataan melalui platform X. Ia menegaskan bahwa tekanan militer tidak akan melemahkan semangat rakyat Iran. Menurutnya, setiap ledakan, ancaman, dan sanksi justru memperkuat tekad masyarakat untuk mempertahankan negaranya.
Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengecam keras serangan tersebut. Ia membandingkannya dengan tragedi di Minab dan Lamerd. Berdasarkan data resmi Iran, serangan di Minab menewaskan sedikitnya 170 orang di sebuah sekolah dasar. Sementara itu, serangan di Lamerd merenggut 24 korban jiwa di fasilitas olahraga.
Sebagai balasan, IRGC menggempur pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait dan Yordania. Tak hanya itu, mereka juga menyerang fasilitas militer di Pangkalan Sheikh Isa, Bahrain. Selain itu, ledakan turut terjadi di Pulau Kish, Bushehr, dan empat lokasi di Provinsi Khuzestan. Pada saat yang sama, tiga anggota IRGC dilaporkan gugur akibat serangan terpisah di Provinsi Zanjan.
Di kawasan Teluk, dampak serangan balasan mulai terasa. Sebuah gedung milik perusahaan asal China di Kuwait utara terkena serangan. Akibatnya, seorang pekerja meninggal dunia.

Ilustrasi Teheran, Iran.
Konflik Menjalar ke Kawasan Lain
Sementara itu, Pemerintah Irak mengaku tidak mengetahui rencana serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Arab Saudi. Operasi tersebut menargetkan kelompok Popular Mobilisation Forces (PMF). Menurut Juru Bicara Pemerintah Irak Haider al-Aboudi, Baghdad tidak pernah memberikan izin atas operasi tersebut. Akibat serangan itu, sedikitnya 20 anggota PMF dilaporkan tewas.
Di sisi lain, Arab Saudi membentuk koalisi pertahanan maritim yang melibatkan 14 negara. Langkah tersebut bertujuan mengamankan jalur pelayaran di Bab al-Mandeb, Laut Merah, dan Teluk Aden. Keputusan itu diambil setelah serangan drone terhadap kapal tanker semakin sering terjadi.
Sementara itu, dua kapal pengangkut gas alam di Pelabuhan Damietta, Mesir, terbakar akibat serangan drone. Pemerintah Mesir membantah tuduhan yang mengaitkan Iran dengan insiden tersebut. Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga membantah keterlibatan negaranya. Bahkan, ia menyebut tuduhan tersebut sebagai operasi bendera palsu yang bertujuan mengganggu stabilitas kawasan.
Ancaman terhadap Krisis Energi Global
Di tengah meningkatnya konflik, kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia ikut bertambah. Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan terganggu. Selain itu, sejumlah kapal tanker mulai menghindari jalur Bab al-Mandeb. Akibatnya, distribusi minyak global berpotensi mengalami hambatan apabila situasi terus memburuk.
Meski demikian, mantan Asisten Sekretaris Negara Amerika Serikat untuk Urusan Timur Near East, Barbara Leaf, menilai konflik saat ini tidak lagi memberikan keuntungan strategis bagi kedua pihak. Karena itu, ia mendorong Amerika Serikat dan Iran segera melakukan de-eskalasi.
Sementara itu, Goldman Sachs memperkirakan harga minyak mentah dunia dapat menembus 120 dolar AS per barel pada kuartal keempat. Proyeksi tersebut berlaku apabila gangguan pelayaran di Selat Hormuz terus berlangsung. Dengan demikian, Konflik Iran AS tidak hanya memengaruhi keamanan Timur Tengah. Namun, konflik tersebut juga berpotensi mengguncang perekonomian serta stabilitas energi global.