TNI – Angkatan Udara terus meningkatkan kemampuan personelnya dalam menghadapi berbagai ancaman yang dapat mengganggu keamanan penerbangan. Salah satu upaya tersebut di wujudkan melalui pelaksanaan Latihan Kesiagaan I Kodau II “Sikatan Daya” Tahun 2026 yang berlangsung di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur.
Kegiatan ini bertujuan untuk menguji kesiapan personel dalam merespons kondisi darurat secara cepat, tepat, dan terkoordinasi. Melalui latihan tersebut, TNI AU berupaya memastikan setiap unsur yang terlibat mampu menjalankan tugas sesuai prosedur yang berlaku ketika menghadapi ancaman nyata di lapangan.
Latihan kesiagaan menjadi bagian penting dalam menjaga profesionalisme personel. Selain meningkatkan kemampuan teknis, kegiatan ini juga memperkuat koordinasi antar satuan yang memiliki peran berbeda dalam penanganan situasi darurat.
Simulasi Ancaman Bom di Pesawat Jadi Fokus Latihan
Dalam skenario yang di jalankan, petugas Air Traffic Control (ATC) menerima informasi mengenai adanya ancaman bom pada sebuah pesawat Cassa 212 dengan registrasi PK-ABD. Informasi tersebut berasal dari Radar Surabaya yang memantau pergerakan pesawat selama penerbangan.
Setelah menerima laporan, petugas ATC segera mengambil langkah sesuai prosedur darurat. Petugas kemudian mengarahkan pesawat untuk melakukan pendaratan darurat di Lanud Abdulrachman Saleh guna mengantisipasi risiko yang dapat membahayakan keselamatan penumpang dan awak pesawat.
Setelah pesawat berhasil mendarat dengan aman, Komandan Lanud Abdulrachman Saleh langsung mengaktifkan prosedur pengamanan pangkalan. Personel yang bertugas segera melaksanakan evakuasi terhadap seluruh penumpang dan awak pesawat untuk memastikan keselamatan mereka.
Skenario ini di rancang untuk menggambarkan situasi yang mungkin terjadi dalam dunia penerbangan. Dengan simulasi yang mendekati kondisi sebenarnya, setiap personel dapat memahami tugas dan tanggung jawab masing-masing saat menghadapi ancaman serupa.
Kolaborasi Antar Satuan Perkuat Penanganan Situasi Darurat
Keberhasilan penanganan ancaman tidak hanya bergantung pada satu unit. Karena itu, latihan melibatkan berbagai unsur yang memiliki fungsi khusus dalam operasi keamanan.
Personel Korps Pasukan Gerak Cepat (Korpasgat) bersama Polisi Militer Angkatan Udara (Pomau) bergerak cepat mengamankan area di sekitar pesawat. Langkah tersebut bertujuan untuk mencegah masuknya pihak yang tidak berkepentingan ke lokasi kejadian.
Pada saat yang sama, tim K-9 mulai melakukan pemeriksaan dengan bantuan anjing pelacak. Tim ini bertugas mencari benda mencurigakan yang berpotensi menjadi sumber ancaman.
Selain itu, tim Penjinak Bahan Peledak atau Jihandak melaksanakan penyisiran secara menyeluruh pada area pesawat. Pemeriksaan di lakukan secara teliti untuk memastikan tidak ada bahan berbahaya yang dapat mengancam keselamatan personel maupun fasilitas pangkalan udara.
Kerja sama antar satuan menjadi faktor penting dalam latihan ini. Setiap tim menjalankan tugas sesuai keahlian masing-masing sehingga proses penanganan dapat berlangsung lebih efektif.

Simulasi penanganan aksi teror bom di pesawat dalam Latihan Kesiagaan I Kodau II “Sikatan Daya” 2026 yang digelar di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur, Rabu (3/6/2026).
Tim Jihandak Amankan Benda Mencurigakan Sesuai Prosedur
Hasil penyisiran menunjukkan adanya sebuah tas yang menimbulkan kecurigaan. Tim Jihandak kemudian mengambil alih penanganan terhadap benda tersebut.
Petugas menjalankan prosedur Explosive Ordnance Disposal (EOD) untuk mengidentifikasi dan mengamankan objek yang diduga mengandung bahan peledak. Proses ini membutuhkan ketelitian tinggi karena kesalahan kecil dapat menimbulkan risiko besar.
Setelah memastikan langkah pengamanan berjalan sesuai standar, tim memindahkan benda mencurigakan menggunakan drum trailer khusus menuju area demolisi. Lokasi tersebut dipilih karena memiliki tingkat keamanan yang memadai untuk proses pemusnahan.
Petugas kemudian melaksanakan pemusnahan sesuai prosedur keamanan yang berlaku. Seluruh tahapan di lakukan secara sistematis guna meminimalkan risiko terhadap personel dan lingkungan sekitar.
Latihan Kesiagaan Tingkatkan Profesionalisme dan Respons Cepat Personel
Pelaksanaan latihan berlangsung dengan lancar dan aman. Setiap unsur yang terlibat mampu menjalankan tugas sesuai prosedur operasional yang telah ditetapkan.
Kegiatan ini memberikan pengalaman berharga bagi personel dalam menghadapi kondisi darurat yang memerlukan tindakan cepat dan terukur. Selain mengasah kemampuan teknis, latihan juga membantu meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan dalam situasi yang penuh tekanan.
Melalui Latihan Sikatan Daya 2026, TNI Angkatan Udara memperkuat kesiapan seluruh personel dalam menghadapi ancaman teror yang dapat mengganggu keamanan penerbangan nasional. Kesiapan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan masyarakat, melindungi fasilitas strategis, dan mendukung stabilitas keamanan negara.
Ke depan, TNI AU berkomitmen untuk terus menggelar latihan serupa secara berkala. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan profesionalisme prajurit sekaligus memastikan setiap personel siap menghadapi berbagai tantangan keamanan yang terus berkembang.