Prabowo – Hubungan ekonomi antara Indonesia dan Kanada memasuki babak baru setelah kedua negara menyepakati Indonesia–Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA). Kesepakatan tersebut membuka peluang lebih luas bagi peningkatan perdagangan, investasi, serta kerja sama strategis di berbagai sektor ekonomi.

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Kanada Mark Carney turut membahas langkah lanjutan untuk memperkuat kemitraan tersebut dalam percakapan melalui sambungan telepon pada Sabtu, 6 Juni 2026.

Duta Besar Kanada untuk Indonesia, Jess Dutton, menyampaikan bahwa kedua pemimpin memandang ICA-CEPA sebagai fondasi penting untuk memperdalam hubungan dagang antara kedua negara. Mereka juga melihat potensi besar yang dapat di manfaatkan demi menciptakan pertumbuhan ekonomi yang saling menguntungkan.

Menurut Dutton, komunikasi tingkat tinggi tersebut menunjukkan komitmen Indonesia dan Kanada dalam memperkuat kerja sama jangka panjang di tengah tantangan ekonomi global yang terus berkembang.

ICA-CEPA Jadi Tonggak Baru Kerja Sama Indonesia-Kanada

Kesepakatan ICA-CEPA yang di tandatangani di Ottawa pada September 2025 menjadi pencapaian bersejarah dalam hubungan bilateral kedua negara. Bagi Kanada, perjanjian ini menjadi kerja sama perdagangan bilateral pertama dengan negara anggota ASEAN.

Kehadiran ICA-CEPA mencerminkan keinginan kedua negara untuk memperluas akses pasar sekaligus meningkatkan daya saing produk masing-masing. Melalui skema tersebut, pelaku usaha memperoleh peluang yang lebih besar untuk menjangkau konsumen lintas negara.

Kanada menilai Indonesia sebagai mitra strategis di kawasan Asia Tenggara. Sebaliknya, Indonesia juga melihat Kanada sebagai pasar potensial sekaligus sumber investasi yang dapat mendukung berbagai program pembangunan nasional.

Kesepakatan ini tidak hanya berfokus pada perdagangan barang, tetapi juga membuka ruang kolaborasi dalam berbagai bidang ekonomi lainnya, termasuk investasi dan peningkatan kapasitas usaha.

Ribuan Produk Berpeluang Nikmati Pengurangan Tarif

Salah satu keuntungan utama dari ICA-CEPA terletak pada kebijakan pengurangan hingga pembebasan tarif perdagangan.

Lebih dari 95 persen komoditas ekspor Kanada ke Indonesia akan memperoleh fasilitas tersebut. Produk-produk seperti gandum, potash, kayu, dan kedelai termasuk dalam daftar komoditas yang mendapat manfaat dari implementasi perjanjian ini.

Kebijakan itu di harapkan mampu meningkatkan efisiensi perdagangan dan menekan biaya distribusi antarnegara. Dengan biaya perdagangan yang lebih kompetitif, arus barang dan aktivitas bisnis berpotensi tumbuh lebih cepat.

Bagi Indonesia, kondisi tersebut juga membuka peluang untuk memperluas ekspor nasional ke pasar Kanada. Pelaku usaha dalam negeri dapat memanfaatkan akses yang lebih terbuka guna meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar Amerika Utara.

Prabowo

Suasana bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (5/1/2026).

Proses Ratifikasi Masih Berlangsung di Indonesia

Pemerintah Kanada telah menyelesaikan seluruh tahapan ratifikasi ICA-CEPA melalui parlemen pada Mei 2026. Langkah tersebut menunjukkan kesiapan Kanada untuk segera mengimplementasikan kesepakatan secara penuh.

Sementara itu, Indonesia masih menjalani proses ratifikasi sesuai mekanisme hukum dan ketentuan yang berlaku di dalam negeri. Setelah kedua negara merampungkan seluruh tahapan administratif, ICA-CEPA dapat mulai diberlakukan secara efektif.

Banyak pihak berharap proses tersebut dapat berjalan lancar agar manfaat ekonomi dari perjanjian ini segera di rasakan oleh dunia usaha maupun masyarakat luas.

Percepatan implementasi dinilai penting karena kondisi ekonomi global menuntut negara-negara untuk memperkuat kemitraan strategis dan memperluas akses pasar internasional.

Berpotensi Tingkatkan Ekspor dan Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Implementasi ICA-CEPA di proyeksikan membawa dampak positif bagi perekonomian Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.

Perjanjian ini di perkirakan mampu mendorong nilai ekspor Indonesia ke Kanada hingga mencapai 11,8 miliar dolar Amerika Serikat pada tahun 2030. Angka tersebut menunjukkan besarnya potensi pasar yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha nasional.

Selain peningkatan ekspor, ICA-CEPA juga berpotensi mendongkrak produk domestik bruto (PDB) Indonesia sebesar 0,12 persen. Di sisi lain, investasi nasional di perkirakan meningkat hingga 0,38 persen seiring bertambahnya kepercayaan investor terhadap iklim bisnis Indonesia.

Peluang tersebut dapat menciptakan efek berantai bagi perekonomian, mulai dari bertambahnya aktivitas industri, meningkatnya kebutuhan tenaga kerja, hingga tumbuhnya sektor pendukung lainnya.

Kerja Sama Strategis di Tengah Tantangan Global

Selain membahas isu perdagangan, Presiden Prabowo dan PM Mark Carney juga bertukar pandangan mengenai perkembangan situasi di Timur Tengah. Keduanya menyoroti dampak konflik kawasan terhadap stabilitas pasar energi dan ekonomi global.

Fluktuasi harga energi serta ketidakpastian geopolitik dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi berbagai negara, termasuk Indonesia dan Kanada. Karena itu, penguatan kerja sama bilateral menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan ekonomi masing-masing.

ICA-CEPA pada akhirnya tidak hanya menjadi perjanjian dagang semata. Kesepakatan tersebut mencerminkan komitmen Indonesia dan Kanada untuk membangun kemitraan ekonomi yang lebih erat, adaptif, dan berorientasi pada pertumbuhan berkelanjutan di tengah dinamika global yang terus berubah.