Kota Majapahit di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, membutuhkan keterlibatan banyak cabang ilmu. Cara kerja lintas disiplin di perlukan untuk menyusun gambaran ibu kota kerajaan secara lebih utuh sekaligus menjaga peninggalannya bagi generasi mendatang. Kajian arkeologi tetap menjadi fondasi, tetapi hasilnya perlu di padukan dengan data lingkungan, ruang, teknologi, dan sejarah.

Kepala Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah , Irfan Mahmud, menyampaikan bahwa geologi, geografi, arsitektur, ilmu lingkungan, penginderaan jauh, teknologi digital, serta kecerdasan artifisial dapat membantu membuka informasi baru. Perpaduan keahlian tersebut di nilai mampu menjelaskan perubahan tata kota dan kehidupan masyarakat Majapahit secara lebih mendalam.

Menurut Irfan, Majapahit bukan sekadar kerajaan masa lalu, melainkan bagian dari ingatan bersama bangsa. Jejaknya menyimpan pengetahuan mengenai politik, perdagangan, teknologi, perencanaan kota, dan pertemuan budaya di Nusantara. Data dari proyek penelitian lapangan di Trowulan pada 1990-an memang melimpah, tetapi sejumlah pertanyaan masih menunggu jawaban.

Misteri Tata Ruang Masih Terbuka

Para peneliti masih perlu mengidentifikasi batas kota, susunan permukiman, jaringan jalan, lokasi kegiatan produksi, tata kelola air, dan bentuk lanskap budayanya. Karena ruang kajiannya luas, pelestarian tidak mungkin di bebankan kepada satu lembaga.

Mendorong kerja bersama Kementerian Kebudayaan, Balai Pelestarian Kebudayaan, Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia, perguruan tinggi, pemerintah daerah, serta masyarakat. Kolaborasi itu di butuhkan agar penggalian informasi ilmiah berjalan seiring dengan perlindungan situs.

Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra , Hery Jogaswara, menilai forum ilmiah berperan penting dalam menyebarkan temuan dan memperluas kemitraan. dan Kementerian Kebudayaan juga memperkuat kerja sama melalui penelitian, pemanfaatan sarana riset, serta pengelolaan koleksi arkeologi. Tim gabungan telah di bentuk untuk mendukung penggunaan koleksi bagi pelestarian budaya.

Kota Majapahit

Foto: Tangkapan layar paparan Irfan Mahmud, Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah.

Kota Kuno Seluas Seratus Kilometer Persegi

Peneliti Yusmaini Aryawati menjelaskan, sebaran tinggalan menunjukkan wilayah perkotaan Majapahit di perkirakan berukuran sekitar 10 kali 10 kilometer. Area itu melintasi sejumlah desa dan kecamatan di Mojokerto. Trowulan sendiri sudah di huni sejak abad ke-10 pada masa Mataram Kuno, kemudian berkembang pada era Singhasari dan mencapai kemajuan besar saat Majapahit.

Pola permukimannya terbagi ke dalam beberapa klaster, antara lain Sentonorejo, Segaran, Pendopo Agung, Nglinguk, Grogol, Pakis, dan Puri. Sentonorejo di perkirakan menjadi lingkungan elite bagi raja serta bangsawan dan memiliki kawasan suci istana.

Sumur Kuno dan Jejak Kehidupan

Di Nglinguk Wetan, peneliti menemukan kembali 63 sumur lama dengan variasi bentuk, ukuran, dan teknik pembuatan. Temuan ini memperlihatkan bahwa penduduk telah mempunyai sistem penyediaan air bersih yang mendukung kehidupan perkotaan.

Sugeng Riyanto dari menduga pola hunian tersebut meneruskan tradisi Singhasari. Kedua kerajaan berkaitan melalui Wangsa Rajasa, garis dinasti yang berawal ketika Ken Arok menaklukkan Kediri pada 1222.

Pelestarian Berbasis Temuan

Muhammad Ichwan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur turut menjelaskan penanganan Situs Bhre Kahuripan. Langkahnya meliputi pendataan, ekskavasi, pembagian zona, perawatan berkala, dan penugasan juru pelihara.

Rangkaian penelitian di Trowulan di harapkan menghasilkan rekonstruksi metropolitan Majapahit yang semakin kuat. Temuan ilmiah juga perlu di sampaikan kepada publik secara jelas agar masyarakat memahami nilainya dan ikut menjaga kawasan bersejarah tersebut.

Dengan dukungan penelitian jangka panjang, dokumentasi modern, dan kebijakan perlindungan yang konsisten, warisan Majapahit dapat menjadi sumber pengetahuan, pendidikan, serta identitas budaya Indonesia pada masa depan sekaligus pusat edukasi.