Lomba Besei Kambe – Peringatan Hari Bhayangkara ke-80 pada tahun 2026 di Kalimantan Tengah berlangsung dengan nuansa yang berbeda. Selain menghadirkan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat, Polda Kalimantan Tengah juga menggelar Lomba Besei Kambe, sebuah perlombaan dayung tradisional yang menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Dayak.
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang kompetisi olahraga air, tetapi juga menjadi sarana untuk melestarikan budaya daerah sekaligus mempererat hubungan antara kepolisian dan masyarakat. Perlombaan yang di gelar di kawasan bawah Jembatan Sungai Kahayan, Jalan S. Parman, Kota Palangka Raya, berhasil menarik perhatian banyak peserta maupun warga yang hadir menyaksikan jalannya pertandingan.
Lomba Tradisional yang Sarat Nilai Budaya
Puluhan tim turut ambil bagian dalam perlombaan Besei Kambe. Peserta berasal dari berbagai unsur, mulai dari satuan kerja di lingkungan Polda Kalimantan Tengah, jajaran kepolisian di daerah, hingga masyarakat umum yang memiliki ketertarikan terhadap olahraga tradisional tersebut.
Suasana perlombaan berlangsung meriah sejak awal. Sorak-sorai pendukung di sepanjang tepian Sungai Kahayan menambah semangat para peserta yang berusaha menjadi yang tercepat mencapai garis akhir. Selain menjadi hiburan bagi masyarakat, kegiatan ini juga memperkenalkan kembali tradisi lokal kepada generasi muda.
Pemilihan Besei Kambe sebagai salah satu agenda utama Hari Bhayangkara bukan tanpa alasan. Tradisi mendayung ini telah di wariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Dayak dan memiliki nilai historis yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Kalimantan Tengah.
Melalui perlombaan tersebut, Polda Kalimantan Tengah ingin menunjukkan bahwa budaya lokal tetap memiliki tempat penting di tengah perkembangan zaman yang semakin modern.
Polda Kalteng Dorong Pelestarian Budaya Daerah
Kapolda Kalimantan Tengah, Irjen Pol Iwan Kurniawan, menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan Hari Bhayangkara ke-80 memang di rancang dengan mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal. Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi salah satu cara agar peringatan Hari Bhayangkara semakin dekat dengan kehidupan masyarakat.
Ia mengungkapkan bahwa berbagai perlombaan yang di gelar selama peringatan Hari Bhayangkara mengangkat unsur budaya daerah sebagai identitas Kalimantan Tengah. Dengan demikian, kegiatan yang di laksanakan tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga memberikan manfaat dalam menjaga kelestarian tradisi.
Lebih lanjut, Kapolda menilai Besei Kambe merupakan salah satu budaya yang layak di pertahankan karena mengandung sejarah panjang masyarakat Dayak. Oleh sebab itu, perlombaan ini di harapkan mampu meningkatkan kepedulian masyarakat, terutama kalangan muda, terhadap budaya leluhur yang di miliki.
Pelestarian budaya, menurutnya, tidak cukup hanya melalui cerita atau dokumentasi. Tradisi akan lebih mudah bertahan apabila terus di praktikkan dan di perkenalkan kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan yang melibatkan banyak pihak.

Foto: Kelompok ibu-ibu mengikuti lomba Besei Kambe di kawasan bawah Jembatan Sungai Kahayan, Jalan S Parman, Kota Palangka Raya.
Filosofi Besei Kambe Sejalan dengan Semangat Bhayangkara
Di balik perlombaan mendayung tersebut, terdapat nilai-nilai kehidupan yang masih relevan hingga saat ini. Besei Kambe bukan sekadar adu kecepatan di atas air, melainkan juga mencerminkan pentingnya kerja sama, kekompakan, keberanian, serta ketangguhan dalam menghadapi tantangan.
Setiap anggota tim harus mampu menjaga ritme kayuhan agar perahu dapat melaju secara maksimal. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa keberhasilan hanya dapat di capai melalui koordinasi dan kebersamaan.
Nilai-nilai tersebut di nilai memiliki kesamaan dengan semangat pengabdian Polri dalam menjalankan tugas melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat. Oleh karena itu, Besei Kambe di anggap sebagai simbol yang mampu menyatukan budaya lokal dengan semangat Bhayangkara.
Selain memperkuat rasa cinta terhadap budaya daerah, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk membangun komunikasi yang lebih baik antara aparat kepolisian dan masyarakat. Interaksi yang terjalin melalui perlombaan di harapkan mampu menciptakan hubungan yang semakin harmonis.
Momentum Mempererat Hubungan Polisi dan Masyarakat
Penyelenggaraan Lomba Besei Kambe menjadi bukti bahwa peringatan Hari Bhayangkara tidak hanya berfokus pada kegiatan formal, tetapi juga memberikan ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi secara aktif.
Melalui kegiatan berbasis budaya seperti ini, masyarakat dapat mengenal lebih dekat peran kepolisian dalam mendukung pelestarian tradisi daerah. Di sisi lain, Polri juga memperoleh kesempatan untuk membangun kedekatan dengan masyarakat melalui kegiatan yang bersifat edukatif dan menghibur.
Ke depan, kegiatan serupa di harapkan dapat terus menjadi agenda rutin dalam berbagai peringatan penting di Kalimantan Tengah. Dengan demikian, warisan budaya Dayak tetap terjaga sekaligus menjadi bagian dari identitas daerah yang terus di kenal oleh generasi penerus.
Peringatan Hari Bhayangkara ke-80 pun menjadi lebih bermakna karena tidak hanya merayakan perjalanan institusi Polri. Tetapi juga menjadi momentum untuk menjaga nilai-nilai budaya lokal, memperkuat kebersamaan, serta menumbuhkan semangat persatuan di tengah masyarakat.