Banjir Nepal Tibet – Bencana banjir bandang yang melanda kawasan perbatasan Nepal dan Tibet di wilayah Himalaya terus menyisakan dampak besar. Hingga Selasa (1/9/2026) pagi, jumlah korban meninggal akibat bencana yang menerjang Nepal dan China tersebut di laporkan telah mencapai 1.003 orang.
Di tengah bertambahnya korban, operasi pencarian masih berlangsung di berbagai lokasi. Tim penyelamat harus menghadapi tumpukan lumpur, batu, hingga reruntuhan bangunan untuk menemukan ribuan orang yang belum di ketahui keberadaannya.
Badan penanggulangan bencana Nepal melaporkan sebanyak 3.916 orang masih di nyatakan hilang. Dari jumlah tersebut, 583 di antaranya merupakan warga negara asing.
Proses pencarian menghadapi kendala besar karena kerusakan yang di timbulkan banjir sangat luas. Longsor yang terjadi setelah bencana, rusaknya sejumlah ruas jalan, serta terganggunya infrastruktur membuat akses menuju beberapa kawasan terpencil menjadi semakin sulit.
Ratusan Jenazah Belum Berhasil Di Identifikasi
Selain mencari korban hilang, pemerintah Nepal menghadapi persoalan lain dalam menangani banyaknya jenazah yang telah di temukan. Kapasitas fasilitas penyimpanan jenazah tidak lagi mencukupi sehingga pihak berwenang harus melakukan pemakaman sementara terhadap ratusan korban yang identitasnya belum di ketahui.
Berdasarkan keterangan pejabat Kementerian Kesehatan Nepal, baru sekitar 4 persen dari kurang lebih 900 jenazah yang di temukan berhasil di ketahui identitasnya.
Situasi berat juga terjadi di Distrik Chitwan. Meskipun wilayah tersebut berada cukup jauh di hilir dari titik awal banjir, arus sungai membawa hampir 300 jenazah hingga ke tepian kawasan tersebut.
Petugas dengan alat pelindung diri harus bekerja di tengah kondisi lingkungan yang berat. Jenazah yang belum di ketahui identitasnya kemudian di pindahkan menggunakan kendaraan untuk menjalani penanganan lebih lanjut.
Sepanjang akhir pekan, sejumlah kawasan hutan di luar kota di gunakan sebagai lokasi pemakaman sementara. Langkah tersebut dilakukan karena fasilitas penyimpanan yang tersedia tidak mampu lagi menampung banyaknya korban.
Di sisi lain, tenaga medis bersama sukarelawan mengambil sampel DNA dari jenazah yang belum teridentifikasi. Proses ini di harapkan dapat membantu keluarga menemukan dan memastikan identitas kerabat mereka.
Kepala Distrik Chitwan Ganesh Aryaal menjelaskan bahwa keluarga masih dapat mengambil jenazah setelah identitas korban di pastikan melalui pemeriksaan DNA. Pemakaman sementara menjadi pilihan yang harus di tempuh karena keterbatasan fasilitas pendingin untuk menyimpan jenazah.
Sekitar 900 Pekerja Proyek PLTA Masih Di Cari
Operasi penyelamatan juga di arahkan ke sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Sekitar 900 pekerja di laporkan masih belum di temukan setelah banjir menerjang kawasan tersebut.
Sebagian pekerja di khawatirkan terjebak di terowongan maupun fasilitas bawah tanah yang berada di 12 proyek PLTA. Tumpukan material akibat banjir membuat akses menuju terowongan menjadi sangat sulit.
Juru bicara militer Nepal, Brigadir Jenderal Raja Ram Basnet, menjelaskan bahwa banyaknya puing menjadi salah satu hambatan terbesar dalam upaya membuka akses menuju lokasi pekerja.
Meski menghadapi kondisi sulit, operasi penyelamatan telah membuahkan hasil di beberapa tempat. Sekitar 250 pekerja berhasil di evakuasi dari proyek PLTA Upper Trishuli sepanjang akhir pekan.
Sementara itu, insinyur militer melakukan operasi peledakan terkontrol untuk membuka jalur menuju area tertentu. Langkah tersebut dilakukan dalam upaya menemukan 42 pekerja lain yang masih belum diketahui keberadaannya.
Kekhawatiran terbesar tertuju pada jaringan terowongan di sejumlah proyek PLTA sepanjang Sungai Trishuli di Nepal bagian tengah. Lumpur, air, bebatuan, dan material lainnya memenuhi banyak bagian terowongan sehingga menyulitkan proses penyisiran.
Tim Nepal kini turut memperoleh dukungan dari sejumlah tenaga ahli asing. Operasi dilakukan dengan memasuki terowongan yang gelap, melewati lumpur serta genangan air, hingga memanjat tumpukan batu untuk menemukan korban yang mungkin masih bertahan hidup.

Petugas pemadam kebakaran dan penyelamat melakukan operasi pencarian dan penyelamatan sejauh 2 kilometer dari Pelabuhan Gyirong beberapa hari setelah tanah longsor pada 26 Agustus yang menghancurkan pelabuhan tersebut, di Kabupaten Gyirong, wilayah Tibet barat, China, pada 29 Agustus 2026.
China Kirim Bantuan Tambahan untuk Nepal
Dukungan internasional mulai di perkuat untuk membantu Nepal menangani dampak bencana. China menjadi salah satu negara yang meningkatkan bantuan bagi operasi pencarian, penyelamatan, dan identifikasi korban.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun menyampaikan bahwa bantuan gelombang kedua di jadwalkan tiba di Nepal pada Selasa (1/9/2026).
Peralatan yang di kirim antara lain drone, perangkat untuk pengujian DNA, serta alat pemurnian air. Selain bantuan berupa perlengkapan, tenaga ahli DNA asal China juga akan membantu proses identifikasi korban.
Bantuan teknologi menjadi penting karena masih banyak jenazah yang belum di ketahui identitasnya. Sementara itu, drone dapat membantu pemetaan wilayah yang sulit di jangkau akibat rusaknya jalan dan infrastruktur.
Besarnya kehancuran juga terlihat dari kesaksian orang-orang yang terlibat langsung dalam operasi penyelamatan. Pilot helikopter Bimal Sharma, yang menjalankan misi bantuan sejak bencana terjadi, melihat perubahan besar di Timure, kota perbatasan dekat Tibet yang telah di kenalnya selama bertahun-tahun.
Selama menjalankan tugas, Sharma tidak memiliki banyak kesempatan berbicara dengan korban yang di evakuasi. Namun, menurut pengamatannya, kesedihan terlihat jelas dari ekspresi masyarakat yang kehilangan keluarga maupun tempat tinggal.
Bantuan Asing Menjadi Perdebatan di Nepal
Di tengah situasi darurat, muncul perdebatan mengenai kebijakan pemerintah Nepal terhadap bantuan internasional. Pemerintah mendapat sorotan setelah beredar laporan yang menyebut adanya keengganan menerima dukungan dari negara lain.
Menteri Keuangan Nepal Swarnim Wagle membantah anggapan bahwa pemerintah menolak bantuan internasional. Menurutnya, bantuan dari luar negeri tetap di terima, tetapi harus di sesuaikan dengan kebutuhan aktual di lokasi bencana.
Perdana Menteri Balen Shah juga menyampaikan bahwa tentara dan kepolisian Nepal telah bekerja bersama tenaga ahli dari beberapa negara. Personel dari India, China, dan Korea Selatan di sebut ikut mendukung operasi penyelamatan, termasuk di kawasan terowongan pembangkit listrik.
Namun, analis politik Chandradev Bhatta menilai pemerintah sebelumnya sempat berhati-hati dalam menerima bantuan internasional. Menurutnya, pertimbangan geopolitik kemungkinan turut memengaruhi kebijakan tersebut.
Pengalaman Nepal setelah gempa besar pada 2015 di sebut menjadi salah satu latar belakangnya. Pada periode rekonstruksi pascabencana tersebut, kepentingan berbagai negara ikut menjadi perhatian karena Nepal berada di antara pengaruh China dan India sekaligus memiliki hubungan dengan negara-negara Barat.
Masyarakat Desak Pemerintah Percepat Penanganan
Persoalan bantuan asing kemudian memicu kritik dari sebagian masyarakat Nepal. Melalui media sosial, sejumlah warga mempertanyakan kebijakan pemerintah apabila kehati-hatian terhadap bantuan internasional berpotensi memperlambat operasi penyelamatan.
Desakan tersebut muncul ketika skala bencana semakin terlihat. Dengan ribuan orang masih hilang, masyarakat menilai setiap dukungan yang dapat mempercepat pencarian seharusnya di pertimbangkan.
Salah satu akun media sosial yang sebelumnya terlibat dalam mobilisasi demonstrasi antipemerintah turut menyerukan agar kepentingan penyelamatan korban di tempatkan di atas pertimbangan nasionalisme maupun geopolitik.
Bhatta juga menilai skala kerusakan kemungkinan sempat tidak di perkirakan secara tepat pada fase awal bencana. Apabila bantuan internasional terlambat di terima, peluang menemukan korban dalam kondisi selamat di khawatirkan semakin kecil.
Kini perhatian utama tetap tertuju pada operasi pencarian di berbagai kawasan Nepal. Ribuan orang masih belum di temukan, sementara petugas menghadapi medan berat, akses yang terputus, terowongan berlumpur, serta kerusakan infrastruktur yang luas.
Dengan korban meninggal telah mencapai 1.003 orang dan 3.916 orang masih di laporkan hilang, bencana banjir Nepal-Tibet menjadi tragedi besar yang membutuhkan operasi penyelamatan berskala luas. Dukungan internasional, percepatan identifikasi korban, serta pembukaan akses menuju wilayah terisolasi menjadi bagian penting dalam penanganan bencana tersebut.