Boyolali – Tradisi Buka Luwur atau Sadranan di Makam Pantaran, Desa Candisari, Kecamatan Gladagsari, Kabupaten Boyolali, kembali menarik perhatian masyarakat. Ribuan warga dari berbagai daerah hadir untuk mengikuti prosesi tahunan yang menjadi bagian dari warisan budaya sekaligus tradisi keagamaan masyarakat setempat.
Kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi warga untuk mengenang jasa para tokoh penyebar agama Islam di kawasan Pantaran. Sekaligus mempererat kebersamaan melalui berbagai rangkaian acara adat yang telah di wariskan secara turun-temurun. Selain mempertahankan nilai budaya, tradisi ini juga menjadi simbol rasa syukur kepada Tuhan atas berbagai nikmat yang di berikan.
Tradisi Buka Luwur Dilaksanakan Setiap Bulan Suro
Prosesi Buka Luwur di gelar setiap hari Jumat pada pekan ketiga bulan Suro dalam kalender Jawa. Salah satu agenda utamanya adalah mengganti kain mori atau kain penutup makam tokoh penyebar Islam di wilayah Pantaran, yakni Syech Maulana Ibrahim Maghribi.
Sebelum prosesi penggantian kain dilakukan, masyarakat mengikuti kirab budaya menuju kompleks makam. Dalam iring-iringan tersebut, kain mori baru di bawa bersama berbagai perlengkapan upacara adat. Suasana semakin semarak dengan penampilan kesenian tradisional serta arak-arakan empat gunungan hasil bumi yang melambangkan rasa syukur atas hasil pertanian masyarakat.
Tradisi tersebut telah berlangsung sejak zaman para leluhur dan hingga kini tetap di jaga oleh masyarakat sebagai bagian dari identitas budaya Boyolali.
Kompleks Makam Menjadi Pusat Pelaksanaan Tradisi
Kompleks Makam Pantaran memiliki nilai sejarah yang tinggi karena menjadi tempat peristirahatan beberapa tokoh penting. Selain makam Syech Maulana Ibrahim Maghribi, di dalam cungkup juga terdapat makam Dewi Nawangwulan, Ki Ageng Pantaran, Ki Ageng Mataram, serta Ki Ageng Kebokanigoro.
Pada pelaksanaan Buka Luwur, seluruh kain penutup kelima makam tersebut di ganti secara bersamaan sebagai simbol penghormatan kepada para tokoh yang berjasa dalam perkembangan agama dan budaya di kawasan tersebut.
Sementara itu, area di luar cungkup merupakan pemakaman umum milik warga setempat. Oleh karena itu, masyarakat sekitar juga turut menggelar tradisi Sadranan dengan berziarah dan mendoakan para leluhur yang di makamkan di lokasi tersebut.
Mengenang Perjuangan Penyebar Agama Islam
Syech Maulana Ibrahim Maghribi di kenal sebagai salah satu penyebar agama Islam di wilayah Pantaran. Kehadirannya membawa perubahan besar bagi masyarakat setempat, termasuk Ki Ageng Pantaran yang pada masa itu merupakan pemimpin padepokan dan di kenal sebagai seorang wiku.
Dalam perjalanan sejarahnya, Ki Ageng Pantaran bersama para muridnya kemudian memeluk agama Islam setelah mendapatkan dakwah dari Syech Maulana Ibrahim Maghribi. Kisah tersebut menjadi bagian penting dari sejarah penyebaran Islam di wilayah lereng Gunung Merbabu.
Nilai sejarah inilah yang membuat tradisi Buka Luwur tidak hanya menjadi kegiatan budaya. Tetapi juga sarana mengenang perjuangan para tokoh yang telah memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat.

Ribuan warga memadati komplek makam Pantaran mengikuti tradisi Buka Luwur, Jumat (10/7/2026).
Ribuan Peziarah Hadir Mengikuti Rangkaian Acara
Setiap tahunnya, ribuan masyarakat datang ke Makam Pantaran, baik dari Boyolali maupun berbagai daerah lain. Mereka mengikuti doa bersama, berziarah, hingga ngalap berkah dari rangkaian prosesi adat yang berlangsung.
Usai penggantian kain mori, acara di lanjutkan dengan zikir, tahlil, dan doa bersama yang di pimpin oleh tokoh agama. Setelah itu, nasi kenduri yang di bawa masyarakat di bagikan kepada para pengunjung sebagai bentuk kebersamaan dan rasa syukur.
Gunungan hasil bumi yang sebelumnya dikirab juga menjadi daya tarik tersendiri. Warga berbondong-bondong memperebutkan isi gunungan karena di percaya membawa keberkahan. Selain itu, sebagian peziarah juga berharap memperoleh potongan kain mori bekas penutup makam maupun makanan dari kenduri sebagai simbol berkah dari tradisi tersebut.
Kegiatan ini turut di hadiri oleh Bupati Boyolali Agus Irawan bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), yang menunjukkan dukungan pemerintah terhadap pelestarian tradisi budaya lokal.
Sedekah Tuk Menjadi Tradisi Baru dalam Perayaan
Pelaksanaan Buka Luwur tahun ini memiliki keunikan tersendiri dengan hadirnya kegiatan Sedekah Tuk atau sedekah sumber mata air. Tradisi baru tersebut di laksanakan sebagai bentuk penghormatan sekaligus ungkapan syukur atas keberadaan sumber air yang selama ini menjadi penopang kehidupan masyarakat.
Sedekah Tuk melibatkan para pengguna air dari sejumlah mata air di kawasan Umbul Sipendok, Simuncar, hingga Tempuran. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat di ajak untuk terus menjaga kelestarian sumber air agar tetap memberikan manfaat bagi generasi mendatang.
Selain sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, kegiatan ini juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan. Terutama kawasan sumber mata air di lereng Gunung Merbabu yang menjadi kebutuhan utama warga.
Komitmen Melestarikan Budaya untuk Generasi Mendatang
Pemerintah Kabupaten Boyolali menilai tradisi Buka Luwur memiliki nilai budaya, sejarah, dan spiritual yang harus terus di pertahankan. Kegiatan ini menjadi media untuk menanamkan penghormatan terhadap jasa para leluhur sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada generasi muda.
Melalui pelaksanaan tradisi yang rutin setiap tahun, masyarakat di harapkan tetap menjaga nilai gotong royong, kebersamaan. Serta rasa syukur atas warisan budaya yang telah bertahan selama ratusan tahun. Dengan demikian, Buka Luwur di Makam Pantaran tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan. Tetapi juga simbol kuat pelestarian sejarah, keagamaan, dan kearifan lokal yang terus hidup di tengah masyarakat Boyolali.