Aturan Pendakian Gunung Malaysia kini semakin ketat setelah pemerintah setempat meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas luar ruangan yang terus mengalami peningkatan. Kebijakan baru tersebut muncul karena tingginya angka operasi pencarian dan penyelamatan atau search and rescue (SAR) akibat meningkatnya kasus pendaki tersesat, terutama mereka yang melakukan pendakian demi mengejar konten di media sosial.

Kementerian Sumber Daya Alam dan Kelestarian Lingkungan (NRES) Malaysia menetapkan sejumlah aturan baru untuk memperkuat keselamatan para pendaki. Salah satu kebijakan utama mewajibkan pendaki menggunakan pemandu resmi ketika memasuki 189 kawasan yang masuk kategori berisiko tinggi.

Selain kewajiban pendampingan, pemerintah Malaysia juga menerapkan prosedur skrining sebelum pendakian. Langkah tersebut bertujuan memastikan kondisi fisik, kesiapan, serta perlengkapan pendaki sebelum mereka memasuki jalur yang memiliki tingkat bahaya tinggi.

Aktivitas Pendakian Meningkat di Tengah Risiko Hutan Tropis

Minat masyarakat Malaysia terhadap aktivitas mendaki gunung terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Banyak orang memilih kegiatan tersebut sebagai sarana rekreasi, olahraga, hingga peluang membuat konten digital.

Namun, kondisi geografis Malaysia menghadirkan tantangan besar bagi para pendaki. Sekitar setengah wilayah daratan negara tersebut masih berupa kawasan hutan hujan tropis dengan karakteristik medan yang kompleks.

Hutan tropis Malaysia memiliki tingkat kelembapan tinggi, suhu yang berubah-ubah, serta vegetasi lebat yang dapat menyulitkan navigasi. Pendaki yang keluar dari jalur resmi berpotensi kehilangan arah karena kondisi lingkungan yang sulit dikenali.

Sejumlah lokasi menjadi tujuan favorit pendaki, seperti Gunung Kinabalu di wilayah Borneo dengan ketinggian mencapai 4.095 meter. Selain itu, terdapat Gunung Tahan di Semenanjung Malaysia yang memiliki ketinggian 2.187 meter dan terkenal dengan jalur hutan panjang yang membutuhkan persiapan matang.

Bagi masyarakat yang ingin melakukan pendakian dengan tingkat kesulitan lebih ringan, Malaysia juga menyediakan kawasan seperti Bukit Bendera atau Penang Hill di George Town serta KL Forest Eco Park di Kuala Lumpur.

Pemerintah Ingin Mengurangi Risiko dan Biaya SAR

NRES menjelaskan bahwa aturan baru tersebut tidak hanya berfokus pada keselamatan pendaki, tetapi juga bertujuan mengurangi beban operasi SAR yang membutuhkan biaya besar serta tenaga banyak pihak.

Wakil Menteri NRES Syed Ibrahim Syed Noh menyebut sebagian insiden terjadi karena pendaki tidak melakukan persiapan dengan baik. Beberapa orang juga memilih memasuki jalur ilegal tanpa izin sehingga meningkatkan risiko kecelakaan.

Menurut Syed Noh, pemerintah ingin mengutamakan langkah pencegahan sebelum insiden terjadi. Dengan sistem pemeriksaan awal, pihak berwenang berharap dapat mengidentifikasi potensi risiko seperti kelelahan ekstrem, gangguan kesehatan, kehilangan arah, maupun kondisi darurat lainnya.

Proses skrining sebelum pendakian mencakup deklarasi kesehatan, pemeriksaan riwayat medis, serta pengecekan kepemilikan asuransi. Pemerintah menilai langkah tersebut dapat membantu menyaring pendaki yang memiliki risiko tinggi sebelum mereka melakukan perjalanan.

Syed Noh menegaskan bahwa keselamatan menjadi prioritas utama karena operasi SAR tidak hanya membutuhkan dana besar, tetapi juga melibatkan banyak personel yang harus bekerja dalam kondisi medan sulit.

Aturan pendakian gunung Malaysia

Ilustrasi pendaki perempuan. Malaysia perketat aturan pendakian.

Pemerintah Batasi Tren Pendakian Cepat

Selain memperketat aturan administratif, pemerintah Malaysia juga mulai mengawasi tren pendakian cepat atau compressed hike yang semakin populer. Aktivitas ini merujuk pada kebiasaan menyelesaikan rute pendakian dalam waktu jauh lebih singkat dibandingkan jadwal normal.

Departemen Perlindungan Satwa Liar dan Taman Nasional bersama Departemen Kehutanan Negeri Perak mengambil langkah pembatasan terhadap aktivitas tersebut, terutama di kawasan yang memiliki tingkat risiko tinggi.

Pemandu gunung dari Departemen Kehutanan Perak, Muzafar Mohamad, menilai pendakian cepat dapat meningkatkan ancaman keselamatan karena mengurangi waktu pemulihan dan mempersempit batas toleransi terhadap kesalahan.

Menurutnya, pendaki yang memangkas waktu perjalanan hingga sebagian besar dari jadwal awal harus memiliki persiapan lebih detail. Faktor kebugaran, logistik, kondisi cuaca, hingga strategi menghadapi keadaan darurat harus menjadi perhatian utama.

Ia menjelaskan bahwa semakin singkat waktu pendakian, semakin kecil pula ruang bagi pendaki untuk melakukan evaluasi ketika menghadapi masalah di jalur.

Fenomena Express Hikers Jadi Perhatian

Pemerintah Malaysia juga menyoroti kemunculan fenomena express hikers atau pendaki yang memiliki ambisi menaklukkan banyak gunung dalam waktu sesingkat mungkin.

Tren tersebut semakin berkembang karena pengaruh media sosial. Sebagian pendaki mengejar pencapaian tertentu agar mendapatkan perhatian publik melalui foto, video, maupun catatan perjalanan yang mereka unggah.

Beberapa ahli menilai kondisi ini dapat mendorong seseorang mengabaikan faktor keselamatan. Tidak sedikit pendaki yang memilih membawa perlengkapan seminimal mungkin agar terlihat lebih cepat dan tangguh seperti pelari lintas alam.

Pemandu gunung Norimah Abd Karim mengingatkan bahwa sebagian pendaki kini lebih fokus menghasilkan konten menarik dibandingkan mempertimbangkan risiko perjalanan.

Menurutnya, keinginan mendapatkan dokumentasi yang menarik dapat membuat seseorang mengambil keputusan berbahaya, termasuk mengabaikan kondisi tubuh, cuaca, serta perlengkapan keselamatan.

Melalui aturan baru tersebut, pemerintah Malaysia berharap aktivitas pendakian tetap berkembang tanpa mengorbankan keselamatan. Pendaki tetap dapat menikmati keindahan alam, tetapi harus mengikuti prosedur yang memastikan perjalanan berlangsung lebih aman dan bertanggung jawab.