Sebanyak 22 mahasiswa internasional yang tergabung dalam Program Intensif Belajar Bahasa dan Budaya Indonesia (PIBBI). Memperoleh pengalaman pembelajaran yang berbeda melalui kegiatan pengenalan budaya Jawa secara langsung. Program ini merupakan hasil kerja sama antara lembaga pendidikan tinggi di Indonesia dengan Australian Consortium for in Country Indonesian Studies (ACICIS). Kegiatan pembelajaran budaya tersebut di laksanakan di Dusun Krajan, Desa Glawan, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang, yang di kenal masih menjaga nilai-nilai tradisi lokal secara kuat.
Berbeda dari pembelajaran di ruang kelas, kegiatan ini di rancang agar peserta dapat berinteraksi langsung dengan budaya masyarakat setempat. Mahasiswa asing tidak hanya mempelajari budaya Jawa secara konseptual, tetapi juga terlibat aktif dalam praktik tradisi yang masih di jalankan hingga saat ini.
Pembelajaran Budaya Jawa Berbasis Praktik Lapangan
Dalam kegiatan tersebut, para peserta di kenalkan dengan berbagai tradisi khas Jawa, seperti Sungkeman, upacara adat Manten, serta pengenalan aksara Jawa. Materi di sampaikan dengan pendekatan aplikatif agar mahasiswa dapat memahami budaya tidak hanya dari sisi bahasa. Tetapi juga dari nilai-nilai sosial yang melekat di dalamnya.
Salah satu kegiatan utama adalah praktik menulis aksara Hanacaraka atau Carakan. Melalui kegiatan ini, peserta di ajak memahami bahwa bahasa daerah memiliki peran penting dalam membentuk identitas budaya masyarakat Jawa. Pembelajaran di lakukan secara langsung dengan pendampingan, sehingga mahasiswa asing dapat merasakan pengalaman autentik dalam mempelajari sistem tulisan tradisional.

PIBBI & ACICIS Ajak 22 Mahasiswa Asing ke Desa Glawan Kabupaten Semarang: Kenalkan Tradisi Manten dan Aksara Jawa.
Simulasi Upacara Adat Manten sebagai Media Pembelajaran Budaya
Selain mempelajari aksara Jawa, mahasiswa juga mengikuti simulasi upacara adat Manten. Dalam simulasi tersebut, para peserta mengenakan busana tradisional Jawa. Seperti beskap untuk pria dan kebaya untuk wanita. Penggunaan pakaian adat ini bertujuan untuk memberikan pemahaman menyeluruh mengenai simbol, etika, serta tata cara yang berlaku dalam upacara pernikahan adat Jawa.
Materi dan praktik adat Manten di pandu oleh Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (FISKOM) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Dr. Sri Suwartiningsih. Selain berperan sebagai narasumber, beliau juga di kenal sebagai praktisi adat Manten. Sehingga penyampaian materi di dukung oleh pengalaman langsung di lapangan.
Pengalaman Interaksi dengan Lingkungan Pedesaan
Setelah mengikuti sesi materi dan praktik budaya, para mahasiswa asing di ajak menikmati suasana pedesaan Desa Glawan. Kegiatan di lanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri area persawahan dan mengunjungi sumber mata air yang ada di sekitar desa. Aktivitas ini bertujuan untuk memperkenalkan kehidupan masyarakat pedesaan sekaligus memperkuat pemahaman peserta terhadap hubungan antara budaya, alam, dan pola hidup masyarakat Jawa.
Salah satu peserta asal Tokyo, Jepang, Yuki Oda, mengungkapkan kekagumannya terhadap tata kelola persawahan di desa tersebut. Ia membandingkan sistem pertanian di Indonesia dengan negara asalnya dan menilai bahwa terasering sawah di Indonesia. Memberikan keindahan tersendiri yang jarang di temui di wilayah perkotaan Jepang.
Harapan Peserta terhadap Pembelajaran Bahasa Indonesia
Selain memperoleh wawasan budaya, mahasiswa asing berharap kegiatan ini dapat membantu meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia mereka. Kay Lewins, peserta asal University of New England, Australia, menyampaikan bahwa interaksi langsung dengan masyarakat lokal menjadi sarana efektif untuk mempercepat penguasaan bahasa Indonesia.
Melalui kegiatan ini, para peserta juga berharap dapat membangun relasi sosial yang lebih luas dengan masyarakat setempat. Interaksi yang terjalin secara alami di harapkan mampu menciptakan pengalaman belajar yang berkesan dan berkelanjutan.
Exposure Culture sebagai Strategi Pembelajaran Bahasa dan Budaya
Kepala Sub Bagian Language Training Center (LTC) UKSW, R.P.N. Dian Widi Sasanti, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program exposure culture yang untuk pertama kalinya di lakukan langsung di tengah masyarakat. Sebelumnya, kegiatan serupa umumnya di laksanakan di lingkungan kampus dengan menghadirkan narasumber.
Menurutnya, pembelajaran bahasa tidak dapat di pisahkan dari pemahaman budaya. Dengan membawa mahasiswa langsung ke lingkungan masyarakat, peserta dapat memahami kebiasaan, nilai, serta kearifan lokal secara lebih mendalam. Pendekatan ini di harapkan mampu meningkatkan efektivitas pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing.