Perkembangan ekonomi hijau menunjukkan tren yang semakin positif di tingkat internasional. Berbagai negara dan pelaku industri kini menempatkan keberlanjutan sebagai bagian penting dari strategi pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Kondisi tersebut tercermin dari meningkatnya nilai pasar ekonomi hijau yang berhasil mencapai sekitar Rp178.600 triliun atau setara dengan 10 triliun dolar Amerika Serikat.

Pencapaian tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam transformasi ekonomi global. Apabila di posisikan sebagai sebuah sektor industri tersendiri, ekonomi hijau kini menempati urutan ketiga terbesar di dunia setelah sektor teknologi dan industri manufaktur. Bahkan melampaui sektor kesehatan yang selama ini menjadi salah satu penggerak utama ekonomi global.

Nilai Pasar Ekonomi Hijau Terus Mengalami Pertumbuhan

Berdasarkan laporan terbaru yang di rilis LSEG, ekonomi hijau saat ini mewakili sekitar 9,9 persen dari total kapitalisasi saham perusahaan yang tercatat di berbagai bursa efek dunia. Angka tersebut menunjukkan bahwa semakin banyak perusahaan yang mengembangkan produk maupun layanan berbasis keberlanjutan dan ramah lingkungan.

Pertumbuhan tersebut tidak hanya terlihat dari sisi nilai pasar, tetapi juga dari peningkatan pendapatan perusahaan. Dari 133 kategori produk dan layanan hijau yang di pantau, sebanyak 99 kategori mencatatkan kenaikan pendapatan. Kondisi ini mengindikasikan bahwa perkembangan ekonomi hijau terjadi secara merata di berbagai sektor usaha dan tidak hanya bergantung pada satu industri tertentu.

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa permintaan terhadap solusi bisnis yang mendukung pelestarian lingkungan terus meningkat. Baik dari kalangan masyarakat maupun pelaku usaha di berbagai negara.

Investasi Bisnis Berkelanjutan Masih Menunjukkan Tren Positif

Di tengah perubahan kebijakan energi dan iklim yang terjadi di sejumlah negara, investasi pada sektor berkelanjutan tetap menunjukkan ketahanan yang kuat. Walaupun beberapa pemerintahan melakukan penyesuaian terhadap kebijakan energi bersih. Minat investor terhadap bisnis hijau masih berada pada tingkat yang tinggi.

Amerika Serikat masih menjadi kontributor terbesar dalam pasar ekonomi hijau dunia dengan porsi sekitar 57 persen dari total nilai pasar global. Posisi tersebut didukung oleh tingginya aktivitas investasi perusahaan swasta yang terus mengembangkan berbagai proyek berbasis energi bersih dan teknologi ramah lingkungan.

Selain itu, kebutuhan perusahaan terhadap pasokan listrik dari sumber energi terbarukan juga meningkat secara signifikan. Perusahaan teknologi berskala global seperti Meta, Amazon, Google, dan Microsoft menjadi pelaku utama dalam penandatanganan Perjanjian Pembelian Listrik (Power Purchase Agreement/PPA) berbasis energi bersih sepanjang tahun 2025. Kontribusi perusahaan-perusahaan tersebut menunjukkan bahwa sektor swasta memiliki peranan besar dalam mempercepat proses transisi menuju ekonomi rendah karbon.

Keberlanjutan Menjadi Strategi Bisnis Masa Depan

Perubahan paradigma bisnis menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pesatnya perkembangan ekonomi hijau. Jika sebelumnya keberlanjutan lebih banyak di pandang sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Kini aspek tersebut telah berkembang menjadi strategi yang mampu meningkatkan daya saing perusahaan.

Fokus terhadap efisiensi energi, pengurangan emisi karbon, serta pengelolaan sumber daya yang lebih efektif kini menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam menjaga stabilitas bisnis jangka panjang. Pendekatan tersebut tidak hanya memberikan manfaat lingkungan, tetapi juga mampu meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperkuat ketahanan perusahaan menghadapi dinamika ekonomi global.

Data jangka panjang juga menunjukkan bahwa ekonomi hijau memiliki performa investasi yang sangat kompetitif. Sejak tahun 2008, sektor ini berhasil mencatatkan pertumbuhan yang melampaui pasar saham global dengan rata-rata pertumbuhan tahunan mencapai sekitar 18 persen, sedangkan pasar saham secara umum tumbuh sekitar 12 persen per tahun.

Bahkan dalam periode 2023 hingga 2026, laju pertumbuhan ekonomi hijau mengalami percepatan hampir dua kali lipat di bandingkan periode tiga tahun sebelumnya.

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi hijau global dengan investasi energi bersih dan bisnis berkelanjutan.

Ekonomi hijau global terus bertumbuh, kini nilainya Rp178.600 triliun

Pasar Obligasi Hijau Semakin Berkembang

Selain pertumbuhan nilai pasar perusahaan, instrumen pembiayaan berbasis lingkungan juga mengalami perkembangan yang signifikan. Salah satunya adalah obligasi hijau atau green bond yang semakin di minati sebagai alternatif pendanaan proyek berkelanjutan.

Sepanjang tahun 2025, penerbitan obligasi hijau berhasil mencetak rekor baru dengan nilai sekitar Rp10.805 triliun atau setara 605 miliar dolar Amerika Serikat. Nilai tersebut meningkat sekitar 5,7 persen di bandingkan tahun sebelumnya.

Mayoritas penerbitan obligasi hijau berasal dari sektor swasta yang menyumbang lebih dari dua pertiga total penerbitan. Dana yang diperoleh melalui instrumen ini sebagian besar di gunakan untuk membiayai proyek efisiensi energi, pengelolaan energi. Serta pengembangan infrastruktur yang lebih ramah lingkungan.

Hingga kuartal pertama tahun ini, proyek-proyek yang berkaitan dengan manajemen energi menjadi kontributor terbesar terhadap nilai obligasi hijau yang masih beredar di pasar global.

Perusahaan Hijau Mencatatkan Kinerja Keuangan Lebih Baik

Laporan tersebut juga memperlihatkan hubungan positif antara penerapan prinsip keberlanjutan dengan kinerja keuangan perusahaan. Dari sekitar 4.000 perusahaan yang terdaftar dalam indeks FTSE. Perusahaan yang memperoleh lebih dari separuh pendapatannya dari aktivitas ekonomi hijau mampu menghasilkan keuntungan operasional yang lebih tinggi. Di bandingkan perusahaan dengan aktivitas hijau yang masih terbatas.

Meski demikian, perusahaan yang sedang berada pada tahap awal transformasi menuju model bisnis berkelanjutan. Umumnya masih menghadapi tekanan terhadap laba karena harus menanggung biaya investasi dan proses adaptasi yang relatif besar.

Di sisi lain, aktivitas merger dan akuisisi pada sektor hijau juga mengalami peningkatan nilai transaksi. Dalam periode 2023 hingga 2025. Rata-rata transaksi perusahaan hijau tercatat jauh lebih tinggi di bandingkan transaksi pada sektor konvensional. Industri manufaktur serta perusahaan penyedia layanan utilitas seperti listrik dan air menjadi sektor yang paling aktif melakukan ekspansi melalui investasi berkelanjutan.

Kesimpulan

Perkembangan ekonomi hijau menunjukkan bahwa konsep keberlanjutan telah berkembang menjadi kekuatan utama dalam membentuk arah perekonomian global. Pertumbuhan nilai pasar, meningkatnya investasi, ekspansi pasar obligasi hijau. Hingga membaiknya kinerja perusahaan berbasis lingkungan menjadi bukti bahwa ekonomi hijau tidak lagi sekadar tren. Melainkan telah menjadi fondasi baru dalam pembangunan ekonomi modern.

Dengan semakin besarnya dukungan dari sektor swasta, investor, dan pasar keuangan internasional. Ekonomi hijau di perkirakan akan terus memainkan peran strategis dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih tangguh, berdaya saing. Serta berorientasi pada keberlanjutan jangka panjang.