Salak Pangu – menjadi salah satu komoditas unggulan yang melekat dengan identitas Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara. Produksi buah yang melimpah membuat wilayah ini di kenal sebagai salah satu daerah penghasil salak. Salah satu pusat perkebunannya berada di Desa Pangu, Kecamatan Ratahan Timur.
Bagi masyarakat Desa Pangu, tanaman salak tidak hanya menghasilkan buah untuk di konsumsi. Komoditas tersebut juga menjadi sumber penghidupan yang telah berkembang di tengah masyarakat. Sebagian besar warga memiliki kebun dan menggantungkan pendapatan dari hasil pertanian salak.
Produksi dari kawasan ini di pasarkan ke berbagai wilayah di Sulawesi Utara. Selain memenuhi kebutuhan pasar lokal dan regional, hasil panen petani juga memiliki potensi pemasaran hingga ke luar negeri. Kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya perkebunan salak bagi perekonomian masyarakat setempat.
Hamparan Kebun Salak Pangu Mencapai Ratusan Hektare
Desa Pangu memiliki kawasan perkebunan salak yang cukup luas. Kebun yang telah memasuki masa produksi di perkirakan mencapai sekitar 500 hektare. Hamparan tanaman tersebut tersebar di sejumlah wilayah desa.
Perkebunan dapat di temukan di Pangu Induk, Pangu Satu, hingga Pangu Dua. Karakter geografis kawasan membuat kebun-kebun tersebut memiliki daya tarik tersendiri. Banyak tanaman tumbuh di kawasan lembah dan lahan dengan kontur cukup curam.
Hamparan tanaman salak yang hijau juga terlihat di sekitar jalan yang melintasi kawasan Desa Pangu. Pemandangan tersebut memberikan suasana pedesaan dan perkebunan yang kuat bagi pengunjung.
Potensi pertanian tersebut kemudian dikembangkan sebagai daya tarik wisata. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Minahasa Tenggara turut mempromosikan perkebunan salak Desa Pangu sebagai destinasi agrowisata.
Konsep ini memungkinkan sektor pertanian berjalan berdampingan dengan kegiatan pariwisata. Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat pemandangan, tetapi juga dapat mengenal aktivitas pertanian masyarakat secara lebih dekat.
Wisatawan Bisa Memetik Salak Langsung dari Kebun
Salah satu pengalaman menarik di agrowisata Salak Pangu adalah memetik buah langsung dari pohonnya. Pengunjung dapat melihat kondisi perkebunan sekaligus menikmati salak segar yang berasal dari kawasan tersebut.
Aktivitas itu memberikan pengalaman berbeda di bandingkan membeli buah di pasar. Wisatawan dapat mengetahui bagaimana petani merawat tanaman hingga buah siap di panen.
Selain kegiatan memetik buah, wisatawan berkesempatan berinteraksi dengan masyarakat setempat. Pengunjung bisa mempelajari kebiasaan, pengetahuan pertanian, serta budaya yang berkembang di lingkungan para petani salak.
Suasana alam juga menjadi daya tarik tambahan. Udara pegunungan yang relatif sejuk berpadu dengan pemandangan hijau perkebunan. Kondisi tersebut membuat kawasan ini berpotensi menjadi pilihan wisata berbasis alam dan pertanian.
Pengembangan salak di Desa Pangu juga tidak berhenti pada penjualan buah segar. Masyarakat mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah. Salah satu produk khas yang dapat di temukan adalah dodol salak.
Inovasi produk tersebut membuka peluang ekonomi yang lebih luas. Selain menjual hasil panen, masyarakat dapat memperkenalkan produk olahan sebagai bagian dari identitas kuliner desa.

Desa Pangu di Minahasa Tenggara dikenal sebagai penghasil salak. Kebun salak seluas 500 hektare menjadi destinasi agrowisata dengan berbagai aktivitas menarik.
Salak Pangu Dapat Dipanen Dua Kali Sebulan
Ketersediaan buah menjadi salah satu kekuatan perkebunan Salak Pangu. Tanaman di kawasan ini di kenal memiliki masa produktif yang relatif cepat. Salak dapat mulai menghasilkan buah ketika tanaman memasuki usia sekitar tiga sampai empat tahun.
Petani juga dapat melakukan pemanenan hingga dua kali dalam satu bulan. Produktivitasnya cukup tinggi. Dalam satu kali panen, kebun seluas satu hektare dapat menghasilkan sekitar 625 hingga 1.000 kilogram buah salak.
Produktivitas tersebut membantu menjaga ketersediaan buah untuk memenuhi permintaan pasar. Pada saat yang sama, hasil panen memberikan sumber pendapatan yang berkelanjutan bagi masyarakat.
Potensi produksi yang besar juga mendukung pengembangan agrowisata. Wisatawan memiliki kesempatan lebih luas untuk menemukan buah segar ketika berkunjung pada periode panen.
Mengenal Karakter Salak Pangu
Varietas salak yang di budidayakan masyarakat Desa Pangu adalah amboinensis. Salak dari kawasan ini memiliki karakteristik yang dapat di bedakan berdasarkan bentuk, warna kulit ketika matang, tekstur, dan cita rasanya.
Jenis pertama memiliki bentuk cenderung bulat. Ketika matang, warna buah tampak agak kehitaman. Daging buahnya mempunyai tekstur renyah dengan rasa manis yang lebih dominan. Sementara itu, sensasi asam tetap ada tetapi tidak terlalu kuat.
Jenis lainnya memiliki bentuk bulat memanjang atau lonjong. Setelah matang, warnanya cenderung kemerahan hingga kekuningan. Tekstur buah tetap renyah, tetapi karakter rasanya berbeda.
Saat jenis tersebut di konsumsi, rasa asam biasanya muncul lebih dahulu. Setelah itu, rasa manis mulai terasa dan memberikan kombinasi cita rasa khas.
Keunikan karakter buah, produktivitas perkebunan, serta kehidupan masyarakat petani membuat Salak Pangu lebih dari sekadar komoditas pertanian. Buah ini telah menjadi bagian penting dari identitas Desa Pangu dan Kabupaten Minahasa Tenggara.
Pengembangan kawasan sebagai destinasi agrowisata juga membuka kesempatan untuk memperkenalkan potensi daerah kepada wisatawan. Melalui aktivitas memetik buah, mengenal proses pertanian, menikmati panorama perkebunan, hingga mencicipi produk olahan, pengunjung dapat memperoleh pengalaman wisata yang lebih lengkap.
Dengan potensi tersebut, agrowisata Salak Pangu dapat menjadi salah satu cara untuk menggabungkan sektor pertanian, ekonomi kreatif, dan pariwisata. Pengembangan yang berkelanjutan juga dapat membantu mempertahankan komoditas khas sekaligus meningkatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat Desa Pangu.