Kunjungan tokoh publik ke suatu tempat kuliner kerap memberikan dampak signifikan terhadap popularitas dan peningkatan jumlah pelanggan. Fenomena ini kembali terlihat pada warung makan legendaris Sop Buntut Cut Meutia di Jakarta Pusat, setelah Menteri Keuangan Republik Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, menyempatkan diri untuk bersantap di lokasi tersebut pada akhir tahun 2025. Kehadiran Menkeu di warung tersebut, yang kemudian di bagikan melalui media sosial, menjadi pemicu meningkatnya perhatian publik terhadap usaha kuliner yang telah lama berdiri ini.
Video momen makan sop buntut tersebut di unggah melalui akun Instagram resmi Kementerian Keuangan serta akun TikTok pribadi sang menteri. Unggahan tersebut dengan cepat menarik perhatian warganet dan meraih jutaan penayangan hanya dalam waktu singkat. Hingga pertengahan Januari 2026, jumlah penonton video tersebut telah menembus angka puluhan juta di berbagai platform media sosial.
Peningkatan Pesanan Pasca Viral di Media Sosial
Pemilik Sop Buntut Cut Meutia, Ningsih, mengungkapkan bahwa sejak video tersebut viral, jumlah pesanan mengalami lonjakan yang cukup signifikan. Jika sebelumnya warungnya rata-rata melayani sekitar 100 porsi sop buntut per hari, kini jumlah tersebut meningkat menjadi sekitar 150 porsi. Kenaikan ini menunjukkan pengaruh kuat media sosial dalam membentuk keputusan konsumen, khususnya ketika melibatkan figur publik.
Menurut Ningsih, ramainya pesanan tidak hanya terjadi pada jam makan siang, tetapi juga berlanjut hingga sore hari. Banyak pelanggan yang datang secara khusus karena mengetahui warung tersebut dari konten video yang beredar. Hal ini memperlihatkan bagaimana konten digital mampu memperluas jangkauan pasar sebuah usaha kuliner tradisional.

Ilustrasi sop buntut sapi.
Daya Tarik Kuliner Legendaris bagi Pelanggan Lokal dan Mancanegara
Menariknya, peningkatan jumlah pelanggan tidak hanya berasal dari masyarakat lokal Jakarta. Ningsih menyebutkan bahwa pengunjung dari luar negeri, seperti Korea Selatan dan negara-negara Timur Tengah, mulai berdatangan setelah video tersebut ramai di bicarakan. Beberapa di antaranya bahkan kembali lagi keesokan harinya karena merasa puas dengan cita rasa yang di sajikan.
Fenomena ini memperkuat posisi Sop Buntut Cut Meutia sebagai salah satu destinasi kuliner yang memiliki daya tarik lintas budaya. Keaslian rasa, konsistensi kualitas, serta reputasi yang telah terbangun selama bertahun-tahun menjadi faktor utama yang membuat pelanggan baru merasa tertarik untuk mencoba dan kembali lagi.
Menu Favorit dan Pengalaman Bersantap Menteri Keuangan
Dalam video berdurasi lebih dari satu menit tersebut, Menteri Keuangan terlihat menikmati hidangan sop buntut dengan penuh antusias. Ia di ketahui menghabiskan dua porsi sop buntut lengkap dengan nasi dan minuman dingin berupa es teh. Menu yang di pesan terdiri dari Sop Buntut Super dan Sop Buntut Bakar, yang merupakan salah satu andalan warung tersebut.
Unggahan video tersebut juga di sertai dengan keterangan bernuansa personal, di mana sang menteri menceritakan kenangannya bersantap di tempat tersebut sejak masa muda. Cerita tersebut menambah kesan autentik dan emosional, sehingga semakin mudah di terima oleh masyarakat luas.
Harga, Produksi, dan Operasional Warung Sop Buntut Cut Meutia
Dari sisi operasional, Sop Buntut Cut Meutia menawarkan harga yang relatif terjangkau untuk ukuran kuliner legendaris di pusat kota Jakarta. Harga seporsi sop buntut dibanderol mulai dari Rp50.000 hingga Rp65.000, belum termasuk nasi. Untuk memenuhi tingginya permintaan, warung ini mampu mengolah hingga puluhan kilogram daging sapi bagian iga dan buntut setiap harinya.
Warung pusat Sop Buntut Cut Meutia berlokasi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, dan memiliki jam operasional yang menyesuaikan hari kerja dan akhir pekan. Konsistensi jam buka serta kualitas pelayanan turut menjadi faktor pendukung meningkatnya kepercayaan pelanggan.
Peran Media Sosial dalam Mengangkat UMKM Kuliner
Kasus Sop Buntut Cut Meutia menunjukkan bahwa media sosial memiliki peran strategis dalam mengangkat usaha mikro dan kuliner lokal ke tingkat yang lebih luas. Kehadiran figur publik, dikombinasikan dengan konten yang autentik dan mudah dibagikan, mampu menciptakan efek promosi yang jauh melampaui metode pemasaran konvensional.
Bagi pelaku usaha kuliner, fenomena ini dapat menjadi pembelajaran penting mengenai pentingnya visibilitas digital dan kekuatan rekomendasi tidak langsung dari tokoh berpengaruh. Dengan menjaga kualitas produk dan pelayanan, peluang untuk mendapatkan perhatian publik melalui media sosial akan semakin terbuka.