Keju – Keju selama ini dikenal sebagai salah satu bahan pangan yang mampu meningkatkan cita rasa berbagai hidangan. Namun, di balik perannya sebagai pelengkap kuliner, keju juga mulai mendapat perhatian dalam dunia kesehatan, khususnya terkait dengan fungsi otak. Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa konsumsi keju, terutama jenis keju tinggi lemak, berpotensi memberikan dampak positif terhadap kesehatan kognitif pada usia lanjut.

Salah satu kajian ilmiah yang menarik perhatian adalah penelitian jangka panjang yang membahas hubungan antara konsumsi produk susu tinggi lemak dan risiko terjadinya demensia. Studi ini memberikan perspektif baru mengenai peran nutrisi dalam menjaga kesehatan otak dan mencegah gangguan neurodegeneratif.

Latar Belakang Penelitian tentang Keju dan Demensia

Demensia merupakan kondisi penurunan fungsi kognitif yang bersifat progresif dan sering terjadi pada populasi lanjut usia. Penyakit ini memengaruhi daya ingat, kemampuan berpikir, serta aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, identifikasi faktor gaya hidup, termasuk pola makan, menjadi salah satu fokus utama dalam upaya pencegahan demensia.

Penelitian yang di publikasikan dalam jurnal Neurology pada Desember 2025 mengkaji hubungan antara konsumsi produk susu tinggi dan rendah lemak dengan risiko demensia dalam jangka panjang. Studi ini di lakukan selama kurang lebih 25 tahun dan melibatkan puluhan ribu partisipan dewasa, sehingga memberikan data yang cukup kuat untuk di analisis secara epidemiologis.

Keju

Ilustrasi Keju.

Metodologi dan Karakteristik Partisipan

Penelitian tersebut melibatkan sekitar 27.670 orang dewasa di Swedia, dengan pemantauan kondisi kesehatan mereka selama periode penelitian. Dari total peserta, lebih dari 3.000 individu kemudian terdiagnosis mengalami demensia. Para peneliti tidak hanya mencatat diagnosis medis, tetapi juga mengumpulkan data rinci mengenai kebiasaan makan para partisipan.

Setiap peserta diminta untuk mencatat seluruh makanan dan minuman yang di konsumsi selama periode tertentu. Termasuk frekuensi dan jumlah konsumsi produk susu seperti keju dan krim. Berdasarkan data tersebut, peserta di kelompokkan menurut tingkat konsumsi keju tinggi lemak, usia, serta jenis kelamin. Fokus penelitian ini adalah pada kejadian demensia secara umum, tanpa membedakan subtipe seperti Alzheimer atau demensia vaskular.

Konsumsi Keju Tinggi Lemak dan Risiko Demensia

Analisis data menunjukkan adanya perbedaan risiko demensia antara kelompok dengan konsumsi keju tinggi lemak yang lebih tinggi dan kelompok dengan konsumsi rendah. Individu yang mengonsumsi setidaknya 50 gram keju tinggi lemak per hari. Setara dengan dua potong keju keras seperti cheddar menunjukkan risiko demensia yang lebih rendah di bandingkan mereka yang hanya mengonsumsi kurang dari 15 gram per hari.

Keju tinggi lemak yang di maksud dalam penelitian ini adalah jenis keju dengan kandungan lemak sekitar 20 persen, seperti cheddar, brie, dan gouda. Temuan ini mengindikasikan bahwa kandungan nutrisi tertentu dalam keju tinggi lemak kemungkinan berperan dalam mendukung kesehatan otak. Meskipun mekanisme biologisnya masih memerlukan kajian lebih lanjut.

Peran Krim Tinggi Lemak dalam Kesehatan Otak

Selain keju, penelitian ini juga menyoroti konsumsi krim tinggi lemak. Individu yang mengonsumsi setidaknya 20 gram krim tinggi lemak per hari menunjukkan risiko demensia yang lebih rendah di bandingkan dengan mereka yang sama sekali tidak mengonsumsi krim. Hal ini memperkuat anggapan bahwa tidak semua produk susu memiliki efek yang sama terhadap fungsi kognitif.

Perbedaan dampak ini menegaskan pentingnya memperhatikan jenis dan komposisi produk susu yang di konsumsi. Bukan sekadar memilih produk rendah lemak tanpa mempertimbangkan manfaat nutrisi lainnya.

Implikasi dan Kehati-hatian dalam Menafsirkan Temuan

Meskipun hasil penelitian menunjukkan hubungan yang menjanjikan antara konsumsi keju tinggi lemak dan penurunan risiko demensia. Para peneliti menekankan bahwa temuan ini tidak dapat di artikan sebagai bukti kausal secara mutlak. Faktor gaya hidup lain, seperti aktivitas fisik, kebiasaan merokok, dan pola makan secara keseluruhan, juga dapat memengaruhi kesehatan otak.

Para ahli menegaskan perlunya penelitian lanjutan untuk mengonfirmasi hasil ini dan mengeksplorasi lebih dalam bagaimana komponen nutrisi dalam keju dan krim tinggi lemak dapat berkontribusi terhadap perlindungan fungsi kognitif. Dengan demikian, konsumsi keju sebaiknya tetap di lakukan secara seimbang sebagai bagian dari pola makan sehat yang menyeluruh.