Pelemahan Dollar AS – Nilai tukar dollar Amerika Serikat kembali menunjukkan tren penurunan signifikan pada awal tahun 2026. Pada Selasa, 27 Januari 2026, dollar AS tercatat berada di level terendah dalam empat tahun terakhir terhadap euro dan poundsterling. Dalam kurun waktu sekitar satu pekan, mata uang tersebut melemah hingga mendekati 3 persen. Walaupun pada Jumat, 30 Januari 2026, laju penurunan terlihat mulai melambat, para pelaku pasar dan analis menilai kondisi tersebut belum sepenuhnya stabil dan berpotensi berlanjut.

Sejumlah analis global memandang pelemahan dollar AS sebagai bagian dari tren jangka menengah hingga panjang. Kepala Riset Pasar Keuangan Global ING, Chris Turner, menyatakan bahwa mayoritas pelaku pasar memperkirakan dollar masih memiliki ruang untuk melemah lebih jauh sepanjang tahun ini. Meskipun waktu terjadinya penurunan lanjutan belum dapat di pastikan, arah pergerakan dollar di nilai sudah cukup jelas oleh pasar.

Dampak Pelemahan Dollar terhadap Perekonomian Amerika Serikat

Melemahnya nilai tukar dollar AS membawa konsekuensi langsung terhadap perekonomian domestik Amerika. Salah satu dampak utama adalah menurunnya daya beli masyarakat, terutama terhadap barang impor. Ketika dollar melemah, harga produk impor menjadi relatif lebih mahal, sehingga berpotensi mendorong tekanan inflasi.

Dalam jangka panjang, situasi ini dapat memengaruhi stabilitas harga di dalam negeri. Selain itu, posisi dollar AS sebagai mata uang cadangan dunia juga mulai menjadi perhatian. Selama beberapa dekade, status tersebut memberikan keuntungan berupa biaya pinjaman yang relatif rendah bagi pemerintah Amerika Serikat. Namun, tren pelemahan yang berkelanjutan dapat memicu pertanyaan pasar mengenai kekuatan dan daya tarik dollar di masa mendatang.

Pelemahan Dollar AS

Ilustrasi Dollar AS.

Penurunan Dollar Setelah Periode Penguatan Panjang

Jika di tarik ke belakang, pelemahan dollar AS saat ini terjadi setelah lebih dari satu dekade periode penguatan. Dalam sepuluh tahun terakhir, dollar sempat mengalami lonjakan nilai yang cukup tajam, terutama pada tahun 2020 dan 2022, seiring dengan pemulihan ekonomi Amerika Serikat pasca pandemi global.

Namun, memasuki tahun 2025, arah pergerakan tersebut mulai berubah. Indeks dollar AS, yang mengukur kekuatan dollar terhadap sejumlah mata uang utama dunia, tercatat melemah hampir 10 persen sepanjang tahun tersebut. Penurunan ini menjadi yang terburuk sejak tahun 2017 dan menandai perubahan signifikan dalam sentimen pasar global terhadap mata uang Amerika.

Sebagian besar pelemahan pada 2025 terjadi beberapa minggu setelah pengumuman kebijakan tarif dagang oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Kebijakan tersebut memicu ketidakpastian di pasar keuangan internasional dan berdampak langsung pada persepsi investor terhadap stabilitas ekonomi AS.

Ketegangan Global dan Tekanan Tambahan terhadap Dollar

Memasuki awal 2026, tekanan terhadap dollar AS tidak hanya berasal dari faktor domestik, tetapi juga dari dinamika geopolitik global. Hubungan antara Amerika Serikat dan Eropa di laporkan mengalami ketegangan, termasuk terkait isu Greenland. Situasi ini turut memperburuk sentimen pasar dan mendorong pelemahan lanjutan pada nilai tukar dollar.

Di tengah kondisi tersebut, muncul pula spekulasi mengenai kemungkinan intervensi pasar valuta asing oleh Amerika Serikat. Salah satu skenario yang banyak di bicarakan adalah kerja sama AS dengan Jepang untuk menjual dollar di pasar valas, dengan tujuan memperkuat nilai tukar yen Jepang. Langkah semacam ini di pandang dapat memberikan tekanan tambahan terhadap dollar dalam jangka pendek.

Persepsi Pasar terhadap Kebijakan Pemerintah AS

Menurut para analis, salah satu faktor utama yang mendorong pelemahan dollar adalah kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan pemerintah Amerika Serikat. Ketidakpastian kebijakan, terutama yang berkaitan dengan perdagangan dan hubungan internasional, di nilai menciptakan volatilitas tinggi di pasar keuangan.

Robin Brooks, peneliti senior di Brookings Institution sekaligus mantan ahli strategi valuta asing di Goldman Sachs, menilai bahwa pasar merespons karakter kebijakan yang di nilai tidak konsisten. Pergeseran kebijakan yang cepat, termasuk eskalasi dan de-eskalasi dalam waktu singkat, membuat investor kesulitan membentuk ekspektasi jangka panjang.

Kondisi ini memperkuat pandangan bahwa pelemahan dollar AS bukan sekadar fluktuasi sementara, melainkan refleksi dari ketidakpastian struktural yang sedang di hadapi ekonomi Amerika Serikat di tengah perubahan lanskap global.