Pelestarian budaya lokal merupakan salah satu tantangan besar di tengah arus globalisasi dan modernisasi yang semakin pesat. Perguruan tinggi sebagai institusi pendidikan memiliki peran strategis dalam menjaga, mengembangkan. Serta mengomunikasikan nilai-nilai budaya kepada generasi muda. Salah satu upaya konkret yang di lakukan dalam konteks ini adalah penyelenggaraan Festival Komunikasi Budaya oleh mahasiswa. Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pasundan angkatan 2024.

Konsep dan Tema Festival Komunikasi Budaya

Festival Komunikasi Budaya yang di selenggarakan pada 6–7 Januari 2026 bertempat di Aula Suradiredja Kampus I Universitas Pasundan Lengkong, Bandung, mengusung tema “Sawala Rupa Pasundan: Sadulur Sabilulungan”. Tema ini merepresentasikan nilai kebersamaan, gotong royong, serta keberagaman ekspresi budaya dalam konteks masyarakat Pasundan. Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi Mata Kuliah Komunikasi Budaya dan Kearifan Lokal yang di rancang untuk mengintegrasikan teori akademik dengan praktik nyata di lapangan.

Festival ini tidak hanya menjadi ajang pertunjukan seni dan budaya, tetapi juga sebagai media pembelajaran yang mendorong mahasiswa untuk memahami budaya secara mendalam, baik dari sisi historis, filosofis, maupun komunikatif. Melalui pendekatan ini, mahasiswa di harapkan mampu memandang budaya bukan sekadar objek kajian teoritis, melainkan sebagai praktik sosial yang hidup dan dinamis.

Festival Komunikasi Budaya

Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Unpas angkatan 2024 menyelenggarakan Festival Komunikasi Budaya 2026.

 

Peran Mahasiswa dalam Pengemasan Budaya

Ketua Pelaksana Festival Komunikasi Budaya, Nur Ratih Devi Affandi. Menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk komitmen mahasiswa dalam menghidupkan budaya melalui komunikasi langsung kepada publik. Mahasiswa di tuntut untuk melakukan riset mendalam terhadap budaya yang mereka pilih, termasuk memahami nilai, makna simbolik, dan filosofi yang terkandung di dalamnya.

Sebanyak 15 budaya Sunda dan 8 budaya nasional di tampilkan dalam festival ini, meliputi tarian adat, upacara tradisional, pakaian adat, serta kuliner khas daerah. Proses persiapan festival menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa, karena mereka tidak hanya menampilkan aspek visual. Tetapi juga harus mampu menjelaskan esensi budaya tersebut kepada pengunjung secara komunikatif dan edukatif.

Festival sebagai Strategi Komunikasi Budaya

Festival Komunikasi Budaya dapat di pahami sebagai strategi komunikasi budaya yang efektif, karena menggabungkan unsur edukasi, hiburan, dan partisipasi publik. Melalui konsep event budaya, nilai-nilai lokal dapat di sampaikan dengan cara yang lebih menarik dan mudah di terima oleh generasi muda. Pendekatan ini juga mendorong lahirnya kesadaran kolektif akan pentingnya pelestarian budaya sebagai identitas bangsa.

Ketua Pelaksana menilai bahwa festival ini berpotensi menjadi model atau trendsetter bagi kegiatan serupa di Indonesia, khususnya dalam konteks pendidikan komunikasi. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa Ilmu Komunikasi tidak hanya berperan sebagai komunikator modern, tetapi juga sebagai agen pelestari budaya.

Dukungan Akademik dan Institusional

Kepala Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Pasundan, Vera Hermawan, menjelaskan bahwa Festival Komunikasi Budaya merupakan agenda rutin tahunan yang terus di kembangkan. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang menampilkan budaya nasional dan internasional. Festival tahun ini secara khusus menitikberatkan pada budaya Kepasundanan. Fokus ini bertujuan agar mahasiswa lebih dekat dan memiliki rasa memiliki terhadap budaya lokalnya sendiri.

Menurutnya, proses “ngamumule” atau melestarikan budaya harus di mulai dari pemahaman yang mendalam. Dengan mempelajari sejarah, nilai, dan praktik budaya, mahasiswa tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku budaya yang aktif. Internaliasi budaya inilah yang menjadi esensi utama dari festival tersebut.

Budaya sebagai Nilai Kehidupan

Dekan FISIP Universitas Pasundan, Kunkurat, turut memberikan apresiasi atas terselenggaranya festival ini. Ia menilai bahwa kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi rutinitas akademik, tetapi selalu menghadirkan kebaruan. Baik dari segi tema maupun relevansi dengan kehidupan sosial masyarakat. Seni dan budaya, menurutnya, sarat dengan simbol dan nilai yang dapat menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dengan demikian, Festival Komunikasi Budaya tidak hanya berfungsi sebagai media ekspresi seni. Tetapi juga sebagai sarana refleksi nilai-nilai sosial dan kultural. Kegiatan ini menunjukkan bahwa integrasi antara pendidikan, budaya, dan komunikasi dapat menjadi langkah strategis dalam menjaga keberlanjutan kearifan lokal di tengah perubahan zaman.