Media sosial Indonesia sempat dihebohkan oleh beredarnya kabar mengenai seorang perempuan bernama Khairun Nisa yang di ketahui berpura-pura menjadi pramugari dalam penerbangan rute Palembang–Jakarta. Peristiwa ini menarik perhatian publik karena berkaitan dengan isu keamanan penerbangan, integritas profesi awak kabin, serta maraknya penipuan berkedok rekrutmen kerja di sektor penerbangan. Kasus tersebut terungkap setelah kru pesawat menyadari adanya ketidaksesuaian pada seragam yang di kenakan oleh Nisa selama penerbangan berlangsung.
Kronologi Terungkapnya Penyamaran di Dalam Pesawat
Kecurigaan pertama muncul ketika awak kabin menilai bahwa seragam yang di kenakan Nisa tidak sepenuhnya sesuai dengan standar resmi maskapai. Perbedaan paling mencolok terlihat pada motif rok yang di nilai tidak identik dengan seragam pramugari yang di keluarkan secara resmi oleh manajemen maskapai. Temuan tersebut kemudian di laporkan kepada petugas keamanan penerbangan sebelum pesawat mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Setelah pesawat tiba di tujuan, pihak keamanan bandara segera melakukan pemeriksaan lanjutan. Nisa kemudian di bawa ke kantor kepolisian bandara untuk di mintai keterangan secara mendalam. Dari hasil pemeriksaan awal, di ketahui bahwa yang bersangkutan bukanlah awak kabin, melainkan penumpang biasa yang membeli tiket secara sah dan duduk di kursi penumpang selama penerbangan berlangsung.

Penampilan Khairun Nisa saat mengenakan seragam mirip pramugari Batik Air yang viral di media sosial.
Pengakuan dan Identitas yang Tidak Valid
Dalam proses klarifikasi, Nisa sempat bersikeras mengaku sebagai pramugari. Ia bahkan menunjukkan kartu identitas yang di klaim sebagai tanda pengenal awak kabin. Namun, setelah diverifikasi lebih lanjut, kartu identitas tersebut di ketahui sudah tidak berlaku atau kedaluwarsa. Ketidaksesuaian data ini semakin memperkuat dugaan bahwa telah terjadi penyamaran.
Selain itu, Nisa juga tidak mampu menjawab sejumlah pertanyaan mendasar terkait pendidikan, pelatihan, dan prosedur standar yang umumnya di kuasai oleh pramugari aktif. Jawaban yang tidak konsisten serta ketidaktahuan terhadap SOP awak kabin menjadi indikator penting yang menguatkan kecurigaan kru pesawat.
Latar Belakang Psikologis dan Tekanan Keluarga
Penyelidikan lebih lanjut mengungkap bahwa tindakan penyamaran tersebut di latarbelakangi oleh tekanan psikologis dan keinginan untuk membahagiakan orang tua. Nisa di ketahui berangkat ke Jakarta dengan izin keluarga untuk mengikuti proses pendaftaran pramugari. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan pihak tidak bertanggung jawab yang menjanjikan kelulusan rekrutmen dengan imbalan sejumlah uang.
Nisa di laporkan telah menyerahkan uang dalam jumlah puluhan juta rupiah. Namun setelah pembayaran di lakukan, pihak yang menjanjikan pekerjaan tersebut tidak lagi dapat di hubungi. Merasa malu karena gagal serta takut mengecewakan keluarga, Nisa akhirnya memilih untuk mengaku telah di terima bekerja sebagai pramugari.
Indikasi Penipuan Rekrutmen Kerja
Kasus ini juga menyoroti maraknya modus penipuan berkedok rekrutmen pramugari yang kerap menargetkan pencari kerja muda. Kurangnya literasi informasi serta tingginya minat terhadap profesi awak kabin menjadi celah yang di manfaatkan oleh pelaku penipuan. Dalam kasus ini, korban tidak hanya mengalami kerugian finansial, tetapi juga tekanan mental yang berdampak pada pengambilan keputusan yang keliru.
Bahkan, untuk memperkuat pengakuannya kepada keluarga, Nisa sempat membuat unggahan palsu di media sosial seolah-olah dirinya telah resmi bekerja sebagai pramugari. Tindakan tersebut di lakukan semata-mata untuk menjaga kepercayaan keluarga, bukan dengan niat kriminal.
Tindakan Kepolisian dan Imbauan kepada Masyarakat
Pihak kepolisian memastikan bahwa tidak di temukan unsur pidana dalam peristiwa ini. Oleh karena itu, Nisa tidak di kenakan penahanan. Barang-barang yang berkaitan dengan penyamaran hanya di amankan untuk keperluan klarifikasi dan pendataan. Pihak maskapai pun di sebut tidak mempermasalahkan kejadian tersebut secara hukum.
Sebagai penutup, aparat kepolisian mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap tawaran kerja yang tidak melalui jalur resmi. Proses rekrutmen di dunia penerbangan memiliki tahapan, seleksi, dan transparansi yang jelas. Masyarakat di harapkan tidak mudah tergiur janji instan, serta selalu melakukan verifikasi informasi agar terhindar dari praktik penipuan serupa di masa mendatang.