Warisan Budaya Dayak Kenyah – Hamparan rumput hijau dan perbukitan yang mengelilingi Desa Setulang, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, menjadi latar bagi salah satu bangunan adat penting masyarakat setempat. Di kawasan tersebut berdiri Lamin Adat Adjang Lidem, rumah tradisional yang menjadi bagian dari perjalanan panjang masyarakat Dayak Kenyah Uma’ Lung.

Bangunan berbentuk rumah panggung berukuran besar ini menggunakan kayu ulin sebagai material utama. Masyarakat mengenal ulin sebagai jenis kayu yang memiliki tingkat ketahanan tinggi. Sementara itu, bagian atap lamin memanfaatkan kepingan kayu keras yang disusun secara teratur sehingga memperkuat karakter arsitektur tradisionalnya.

Keberadaan Lamin Adat Adjang Lidem tidak hanya menunjukkan kemampuan masyarakat Dayak dalam membangun rumah tradisional. Lebih dari itu, bangunan tersebut menjadi tempat menyimpan sejarah, nilai kebersamaan, hingga berbagai pesan kehidupan yang diwariskan para leluhur kepada generasi berikutnya.

Ornamen Tradisional Menghiasi Lamin Adat Adjang Lidem

Pengunjung yang memasuki kawasan lamin dapat menemukan berbagai unsur budaya sejak berada di bagian pelataran. Salah satunya berupa gardu pandang berbahan kayu yang dilengkapi ukiran tradisional.

Selain itu, sejumlah patung kayu berbentuk manusia terlihat menghiasi area sekitar halaman hingga bagian bawah rumah panggung. Dalam tradisi masyarakat setempat, keberadaan patung tersebut berkaitan erat dengan identitas budaya dan penghormatan terhadap leluhur.

Masyarakat juga memaknainya sebagai bagian dari unsur spiritual yang menjaga kawasan rumah adat. Karena itu, setiap ornamen tidak sekadar berfungsi sebagai penghias bangunan.

Untuk mencapai ruangan utama, pengunjung melewati akses berupa jembatan landai. Papan bertuliskan “LAMIN ADAT ADJANG LIDEM” menjadi penanda sebelum memasuki bagian dalam rumah adat.

Nuansa budaya semakin terasa pada pintu utama. Lukisan yang menggambarkan penari serta prajurit Dayak dengan pakaian adat menghiasi bagian tersebut.

Simbol Macan dan Burung Enggang Sarat Filosofi

Detail arsitektur Lamin Adat Adjang Lidem memperlihatkan kekayaan simbol masyarakat Dayak Kenyah. Pada bagian segitiga di bubungan atap utama, misalnya, terdapat relief dua macan tutul berwarna kuning.

Kedua figur tersebut mengapit ornamen berbentuk wajah serta burung enggang. Sementara itu, pagar balkon menampilkan ukiran kepala macan bertaring yang berpadu dengan motif sulur berwarna-warni.

Kepala Desa Setulang, Saleh Wang, menjelaskan bahwa setiap simbol memiliki filosofi tersendiri. Masyarakat Dayak memaknai macan sebagai lambang kekuasaan, kehormatan, dan kedudukan tinggi. Simbol tersebut memiliki kaitan dengan kelompok paren atau kalangan bangsawan dan tokoh adat.

Menurut Saleh, masyarakat pada masa lalu menggunakan ornamen macan untuk menggambarkan sosok pemimpin yang memiliki kedudukan terhormat. Adapun burung enggang membawa makna berbeda.

Burung yang memiliki posisi penting dalam kebudayaan Dayak tersebut melambangkan keluhuran, perlindungan, serta kedamaian. Kehadiran simbol enggang sekaligus menggambarkan seorang pengayom yang mampu menghadirkan ketenteraman bagi masyarakat.

Lamin Adat Adjang Lidem, rumah adat Dayak Kenyah di Desa Setulang, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara.

Rumah Lamin Adat Adjang Lidem di Malinau, Kaltara.

Ukiran Sulur Mengajarkan Kebersamaan

Filosofi kehidupan juga tersimpan dalam motif sulur yang menghiasi Lamin Adat Adjang Lidem. Para perajin membuat pahatan tersebut dalam perpaduan ukuran besar dan kecil dengan posisi mengarah pada ukiran utama.

Motif itu membawa pesan tentang hubungan antara generasi muda dengan orang tua. Leluhur mengajarkan anak-anak dan generasi penerus agar tetap menghormati orang yang lebih tua serta memegang teguh nilai adat.

Selain mengajarkan penghormatan, pola sulur yang saling terhubung menggambarkan kehidupan sosial masyarakat. Saleh menjelaskan bahwa ukiran yang tampak saling melilit menjadi simbol pentingnya hubungan antarsesama.

Melalui simbol tersebut, para leluhur mewariskan nilai gotong royong dan kebiasaan saling membantu. Masyarakat diharapkan tidak menjalani kehidupan secara individual, tetapi terus membangun hubungan yang kuat dengan lingkungan sosialnya.

Sejarah Lamin Adat Adjang Lidem

Lamin Adat Adjang Lidem juga menyimpan catatan sejarah perjalanan masyarakat Desa Setulang. Pemerintah meresmikan bangunan tersebut pada 1995. Bupati Martin Billa meresmikannya pada masa itu.

Nama Adjang Lidem sendiri berasal dari seorang tokoh adat yang memiliki peranan penting dalam sejarah masyarakat setempat. Adjang Lidem memimpin perpindahan warga dari kampung lama mereka di Long Saan pada 1978.

Keputusan untuk meninggalkan kampung lama bukan tanpa alasan. Para orang tua ketika itu mempertimbangkan masa depan generasi berikutnya.

Kondisi Long Saan yang relatif terisolasi dari pusat pemerintahan membuat masyarakat menghadapi berbagai keterbatasan. Mereka kemudian mencari tempat baru dengan harapan anak dan cucu memperoleh akses kehidupan serta pendidikan yang lebih baik.

Perjalanan tersebut akhirnya menjadi bagian penting dari sejarah masyarakat Setulang. Nama Adjang Lidem kemudian diabadikan pada rumah lamin sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh yang memimpin perpindahan tersebut.

Dibangun Berkat Semangat Gotong Royong Warga

Pembangunan Lamin Adat Adjang Lidem menunjukkan kuatnya budaya gotong royong masyarakat Dayak Kenyah Uma’ Lung. Warga ikut terlibat secara langsung dalam menyediakan material yang di butuhkan untuk mendirikan bangunan.

Menurut Saleh, masyarakat menyumbangkan tiang-tiang ulin berukuran besar secara sukarela. Mereka tidak memperhitungkan nilai ekonomi dari material yang di berikan karena pembangunan lamin menjadi kepentingan bersama.

Semangat tersebut membuat rumah adat memiliki arti lebih luas di bandingkan sebuah bangunan fisik. Lamin menjadi simbol persatuan masyarakat sekaligus bukti bagaimana kebersamaan mampu menghasilkan warisan yang dapat bertahan lintas generasi.

Kini, Lamin Adat Adjang Lidem terus menjalankan perannya sebagai pusat berbagai aktivitas adat masyarakat. Bangunan tersebut juga menjadi salah satu ruang penting untuk menjaga keberlangsungan tradisi Dayak Kenyah Uma’ Lung.

Di sisi lain, keberadaan rumah adat ikut memperkuat daya tarik Desa Wisata Setulang. Wisatawan dapat melihat langsung arsitektur tradisional sekaligus memahami berbagai filosofi yang tersimpan di balik ukiran dan ornamen bangunan.

Dengan sejarah, arsitektur, serta nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya, Lamin Adat Adjang Lidem menjadi lebih dari sekadar rumah tradisional. Bangunan tersebut menjadi penghubung antara perjalanan leluhur, kehidupan masyarakat masa kini, dan upaya menjaga identitas budaya untuk generasi mendatang.