Aktivitas Erupsi Gunung Anak Krakatau – di Selat Sunda kembali menjadi perhatian setelah suara dentuman dilaporkan terdengar hingga sejumlah wilayah di Jawa Barat, termasuk kawasan Bandung Raya. Selain suara yang cukup jelas, sebagian masyarakat juga merasakan getaran pada kaca jendela dan pintu rumah.
Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi secara terus-menerus sejak Jumat (4/9/2026) sekitar pukul 23.07 WIB. Aktivitas tersebut masih berlangsung hingga Sabtu (5/9/2026) pukul 04.40 WIB.
Kepala Badan Geologi Lana Saria menjelaskan bahwa laporan mengenai dentuman dan getaran tidak hanya datang dari Jawa Barat. Masyarakat di beberapa wilayah Banten dan Lampung juga melaporkan fenomena serupa.
Menurut Lana, aktivitas erupsi yang berlangsung selama beberapa jam dan berkaitan dengan semburan lava menyerupai air mancur termasuk fenomena yang dapat terjadi dalam proses erupsi gunung api.
Badan Geologi menduga kuat dentuman serta getaran yang dirasakan masyarakat memiliki hubungan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang berlangsung pada periode yang sama.
Penyebab Dentuman Gunung Anak Krakatau Terdengar Jauh
Fenomena suara dentuman Gunung Anak Krakatau yang menjangkau wilayah cukup jauh dapat terjadi karena beberapa faktor. Salah satunya berasal dari ekspansi cepat ketika gunung melepaskan gas selama proses erupsi.
Selain pelepasan gas, pergerakan material vulkanik juga dapat menghasilkan suara kuat. Gesekan dan turbulensi dari aliran lava berkecepatan tinggi di dalam konduit atau saluran menuju lubang kepundan mampu menciptakan gelombang suara yang kemudian menyebar ke atmosfer.
Gelombang tersebut dapat menempuh perjalanan sangat jauh. Kondisi atmosfer bahkan memungkinkan masyarakat di daerah yang lebih jauh mendengar dentuman dengan jelas, sedangkan beberapa kawasan yang secara geografis lebih dekat dengan sumber erupsi justru belum tentu mengalami fenomena serupa.
Perbedaan tersebut berkaitan erat dengan karakter perambatan gelombang suara di atmosfer.
Kondisi Atmosfer Memengaruhi Perjalanan Gelombang Suara
Gelombang suara berfrekuensi rendah atau perubahan tekanan udara dapat bergerak hingga ratusan kilometer melalui atmosfer. Dalam prosesnya, suhu udara, tekanan atmosfer, arah angin, serta kondisi lapisan udara di berbagai ketinggian akan memengaruhi arah perjalanan gelombang.
Perubahan kondisi tersebut dapat membelokkan jalur suara. Akibatnya, energi suara yang awalnya bergerak ke lapisan atmosfer dapat kembali menuju permukaan bumi pada lokasi yang jauh dari sumber.
Fenomena inilah yang menjadi salah satu penjelasan mengapa dentuman dari aktivitas Anak Krakatau dapat dirasakan masyarakat di kawasan Bandung. Efek yang muncul tidak hanya berupa suara. Sejumlah laporan juga menyebut kaca dan pintu ikut bergetar ketika dentuman terjadi.
Meskipun demikian, Badan Geologi meminta masyarakat tetap tenang dan mengikuti perkembangan melalui sumber informasi resmi. Masyarakat juga perlu berhati-hati terhadap informasi yang belum mendapatkan verifikasi, terutama kabar yang mengaitkan aktivitas gunung dengan ancaman tsunami.

Tangkapan layar video amatir warga pemancing di Lampung Selatan menyaksikan langsung Anak Krakatau sedang erupsi, Sabtu (5/9/2026) dini hari.
Anak Krakatau Berstatus Level III Siaga
Saat ini, aktivitas Gunung Anak Krakatau berada pada Level III atau Siaga. Status tersebut telah berlaku sejak 2 Juli 2026.
Dengan tingkat aktivitas tersebut, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi bahaya vulkanik. Ancaman yang dapat muncul antara lain aliran lava, lontaran material atau batu pijar, awan panas, hingga hujan abu vulkanik.
Abu vulkanik juga dapat menimbulkan dampak terhadap aktivitas masyarakat. Konsentrasi abu yang cukup tinggi berpotensi mengurangi jarak pandang. Selain itu, partikel abu dapat mengganggu kesehatan, terutama sistem pernapasan.
Oleh karena itu, masyarakat perlu mematuhi rekomendasi dari pihak berwenang serta menghindari kawasan yang masuk dalam zona berbahaya.
Infrasound Diduga Menjadi Penyebab Getaran di Bandung
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, turut menjelaskan fenomena dentuman yang terdengar di Bandung. Ia menilai aktivitas Gunung Anak Krakatau dapat menjelaskan kemunculan suara tersebut.
Menurut Daryono, erupsi dapat mengubah energi termal dan mekanis secara cepat menjadi gelombang kompresi akustik dengan frekuensi sangat rendah atau infrasound.
Gelombang infrasound selanjutnya bergerak melalui lapisan atmosfer, termasuk troposfer dan stratosfer. Kondisi temperatur serta perubahan kecepatan dan arah angin pada ketinggian tertentu dapat membentuk jalur yang memungkinkan gelombang tersebut bergerak sangat jauh dengan kehilangan energi yang relatif kecil.
Mekanisme tersebut juga dapat membuat energi suara melewati kawasan yang lebih dekat dengan Gunung Anak Krakatau. Dalam ilmu akustik, wilayah yang tidak menerima suara secara kuat dapat membentuk semacam zona bayangan akustik atau acoustic shadow zone.
Topografi Cekungan Bandung Bisa Memperkuat Efek Dentuman
Karakter geografis Bandung juga dinilai berperan terhadap fenomena tersebut. Daryono menjelaskan bahwa gelombang suara dapat mencapai jarak tertentu setelah mengalami pembiasan akibat perubahan temperatur dan pergeseran angin di atmosfer.
Ketika energi tersebut mencapai kawasan Cekungan Bandung, kondisi topografi setempat berpotensi memengaruhi penyebaran gelombang. Bentuk cekungan dapat berperan seperti ruang akustik yang memantulkan dan memperkuat tekanan gelombang atmosfer secara lokal.
Kondisi itu kemudian dapat memicu resonansi mekanis pada benda atau struktur ringan, seperti kaca jendela dan pintu. Dengan demikian, getaran yang dirasakan masyarakat tidak selalu menunjukkan adanya rambatan gelombang seismik melalui tanah.
Fenomena dentuman yang terdengar jauh dari Gunung Anak Krakatau menunjukkan bahwa dampak sebuah erupsi tidak hanya bergantung pada jarak geografis. Kondisi atmosfer, karakter gelombang berfrekuensi rendah, arah angin, perubahan temperatur, hingga bentuk topografi wilayah dapat menentukan bagaimana suara erupsi merambat dan akhirnya terdengar di suatu daerah.
Di tengah aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih berstatus Siaga, masyarakat sebaiknya tetap mengikuti arahan resmi dari instansi terkait dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Kewaspadaan tetap diperlukan tanpa menimbulkan kepanikan, terutama bagi masyarakat yang berada di sekitar kawasan rawan bencana.