TOTON Menghadirkan Koleksi Tempaan Kala – dalam perayaan Senayan City Fashion Nation edisi ke-20 dengan membawa kekayaan wastra Indonesia ke dalam pendekatan mode kontemporer. Melalui koleksi khusus ini, desainer Toton Januar menggabungkan unsur tradisi, perjalanan waktu, serta teknik pengerjaan tangan menjadi rangkaian busana yang memiliki karakter kuat.
Kehadiran TOTON sekaligus menunjukkan bahwa kain tradisional dapat terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Alih-alih meninggalkan identitas asli material, label tersebut justru menjadikan karakter wastra sebagai bagian penting dalam proses penciptaan busana.
Sebanyak 20 tampilan disiapkan secara khusus untuk panggung Senayan City Fashion Nation. Setiap rancangan membawa gagasan mengenai perjalanan manusia dan karya yang terus berkembang seiring berjalannya waktu.
Tempaan Kala Menggambarkan Perjalanan Sebuah Karya
Toton Januar memilih nama Tempaan Kala untuk merangkum gagasan utama koleksinya. Tema tersebut masih berkaitan dengan eksplorasi mengenai waktu yang sebelumnya menjadi bagian dari proses kreatif TOTON.
Dalam konferensi pers Senayan City Fashion Nation 20th Edition di Senayan City, Jakarta Pusat, Jumat (18/9/2026), Toton menjelaskan bahwa koleksi spesial tersebut terdiri dari 20 tampilan.
Bagi sang desainer, waktu bukan sekadar penanda perjalanan. Sebaliknya, waktu dapat membentuk seseorang melalui berbagai pengalaman yang dilewati. Proses panjang itulah yang kemudian memengaruhi cara seseorang melihat, menciptakan, dan menyempurnakan sebuah karya.
Konsep tersebut menjadi dasar dari Tempaan Kala. Melalui koleksi ini, TOTON berusaha menggambarkan bagaimana proses yang berlangsung terus-menerus dapat menghasilkan sesuatu yang berbeda sekaligus berkembang menjadi lebih baik.
Karena itu, koleksi ini tidak hanya mengutamakan tampilan visual. Di balik setiap busana, terdapat gagasan mengenai proses, kesabaran, perubahan, serta kematangan dalam berkarya.
Batik Gedog Tuban dan Pekalongan Menjadi Sorotan
Untuk menerjemahkan konsep tersebut, TOTON kembali mendekatkan desain modern dengan kekayaan tekstil Indonesia. Kali ini, Batik Gedog Tuban dan Batik Pekalongan menjadi dua material tradisional yang mendapat perhatian utama.
Keduanya mempunyai identitas dan karakter visual yang khas. Namun, TOTON tidak sekadar menghadirkan kain tersebut dalam bentuk konvensional. Tim kreatif mengolahnya melalui pendekatan desain yang menyesuaikan karakter koleksi masa kini.
Selain itu, Toton Januar memilih perpaduan warna biru dan putih. Palet tersebut menjadi salah satu kombinasi warna favoritnya sekaligus memberikan kesan bersih dan elegan pada keseluruhan koleksi.
Perpaduan tersebut juga membantu menampilkan detail kain secara lebih jelas. Dengan demikian, unsur tradisional tetap terasa kuat meskipun busana hadir dalam bahasa desain yang lebih modern.

Koleksi Tempaan Kala dari TOTON di Fashion Nation 20th Edition, di Senayan City, Jakarta Pusat, Jumat (18/9/2026).
Mengandalkan Teknik Pengerjaan Tangan
Filosofi tentang perjalanan waktu juga tercermin dalam proses produksi. TOTON memilih sejumlah teknik yang membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan keterampilan tangan di bandingkan proses yang serba cepat.
Pendekatan tersebut sejalan dengan gagasan Tempaan Kala. Sebuah karya tidak selalu harus lahir melalui proses instan. Sebaliknya, waktu yang di gunakan untuk mengolah material dapat menjadi bagian penting dari nilai sebuah rancangan.
Karena alasan itu, teknik pengerjaan tangan mendapat porsi besar dalam koleksi ini. Metode tersebut sekaligus membuka ruang bagi desainer untuk mengeksplorasi sifat asli material secara lebih mendalam.
Pendekatan itu memperlihatkan hubungan antara kreativitas modern dan keterampilan tradisional. Sementara tren mode terus berubah, teknik yang membutuhkan ketekunan tetap dapat memperoleh tempat dalam industri fesyen kontemporer.
Eksperimen Membentuk Wastra Tanpa Memotong dan Menjahit
Salah satu bagian menarik dari Tempaan Kala muncul melalui eksplorasi konstruksi pakaian. TOTON berusaha mengolah sejumlah material tanpa mengandalkan metode pemotongan dan penjahitan seperti yang lazim di gunakan dalam pembuatan busana.
Cara tersebut di pilih untuk menjaga lembaran wastra sekaligus mengeksplorasi kemungkinan bentuk baru. Tantangannya tentu tidak sederhana karena desainer harus menciptakan struktur dan siluet pakaian tanpa banyak mengubah kondisi dasar material.
Untuk mencapai bentuk yang di inginkan, pengolahan kain mengandalkan manipulasi material. Teknik seperti lipatan dan pengaturan struktur memungkinkan kain berubah menjadi busana dengan karakter kontemporer tanpa kehilangan identitas awalnya.
Eksperimen tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa wastra Nusantara mempunyai ruang eksplorasi yang luas. Kain tradisional tidak harus selalu hadir dalam bentuk yang sama dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sebaliknya, desainer dapat memberikan interpretasi baru selama tetap memahami dan menghargai karakter material.
Melalui Tempaan Kala, TOTON akhirnya mempertemukan filosofi waktu, keterampilan tangan, Batik Gedog Tuban, dan Batik Pekalongan dalam satu panggung. Koleksi tersebut menunjukkan bagaimana perjalanan panjang sebuah tradisi dapat menjadi sumber kreativitas untuk melahirkan busana yang relevan dengan perkembangan mode saat ini.