Makanan Khas Keraton Yogyakarta menjadi bagian penting dari tradisi kuliner kerajaan yang terus di kenang hingga sekarang. Setiap hidangan hadir melalui teknik memasak tradisional dengan racikan rempah khas yang mencerminkan kekayaan budaya Yogyakarta. Berdasarkan arsip Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta pada Minggu (26/7/2026), beberapa menu ini pernah menghiasi meja makan keluarga kerajaan, bahkan sebagian menjadi hidangan favorit Sri Sultan Hamengku Buwono VIII dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
Ragam Makanan Khas Keraton Yogyakarta
Keraton Yogyakarta tidak hanya melestarikan adat istiadat, tetapi juga mempertahankan warisan kuliner yang memiliki cita rasa khas. Setiap hidangan menggunakan bahan pilihan serta proses memasak yang teliti sehingga menghasilkan rasa autentik.
1. Glendhoh
Glendhoh menjadi salah satu menu makan siang yang dahulu di nikmati keluarga Keraton Yogyakarta. Juru masak memilih burung dara muda sebagai bahan utama, kemudian mengisi bagian perutnya dengan daging cincang yang telah di bumbui bawang merah, bawang putih, ketumbar, rempah-rempah, dan santan kental.
Setelah menjahit kembali daging tersebut, mereka membungkusnya menggunakan daun, mengukusnya hingga matang, lalu membakarnya sebelum menyiramnya dengan areh. Proses memasak yang panjang membuat glendhoh di kenal sebagai hidangan istimewa di lingkungan keraton.
2. Betutu
Betutu versi Keraton Yogyakarta memiliki karakter yang berbeda dari betutu khas Bali. Juru masak mengeluarkan tulang dan isi perut ayam, lalu mengisi bagian dalamnya dengan daging cincang rebus sebelum menjahitnya kembali.
Selanjutnya, ayam di masak bersama bawang merah, bawang putih, jahe, kemiri, serai, lengkuas, daun salam, lada, gula merah, dan santan hingga menghasilkan kuah areh yang gurih. Hidangan ini tercatat sebagai salah satu makanan favorit Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.
3. Lidah Asap
Lidah asap atau asin lidah juga pernah menjadi menu makan siang Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Juru masak merebus lidah sapi hingga empuk, memotongnya menjadi beberapa bagian, lalu menjepitnya menggunakan bambu.
Setelah mengolesinya dengan mentega, mereka membakar daging hingga mengeluarkan aroma khas yang menggugah selera. Teknik pembakaran tersebut menghasilkan rasa gurih dengan aroma yang semakin kaya.

Ada sejumlah makanan khas Keraton Yogyakarta dahulu disajikan untuk keluarga kerajaan. Apa saja?
4. Dendeng Age
Dendeng Age memadukan daging sapi halus dengan santan serta berbagai rempah, seperti ketumbar, kemiri, lada, bawang merah, bawang putih, serai, daun salam, dan gula merah.
Setelah mencampur seluruh bahan, juru masak membentuk adonan menyerupai sate, memanggangnya hingga kering, kemudian menyiramnya menggunakan areh. Hidangan ini juga menjadi salah satu menu kesukaan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.
5. Gudeg
Gudeg menjadi kuliner yang paling identik dengan Yogyakarta sekaligus pernah menjadi menu sarapan Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Juru masak mengolah nangka muda bersama santan, gula merah, bawang merah, bawang putih, ketumbar, kemiri, lengkuas, dan daun salam hingga menghasilkan cita rasa manis gurih.
Di lingkungan keraton, gudeg umumnya hadir bersama telur rebus, ayam, dan sambal goreng krecek sehingga menciptakan sajian yang lengkap.
6. Bir Jawa
Meskipun menggunakan nama “bir”, minuman tradisional ini sama sekali tidak mengandung alkohol. Peracik membuat Bir Jawa dari rebusan jahe, serai, cengkih, kayu manis, mesoyi, daun pandan, gula, dan air jeruk nipis.
Sri Sultan Hamengku Buwono VIII di sebut kerap menikmati minuman hangat ini pada sore hari setelah beristirahat. Selain memberikan sensasi hangat, perpaduan rempah tersebut juga di percaya membantu menjaga kebugaran tubuh.
Warisan Kuliner Keraton yang Tetap Lestari
Makanan khas Keraton Yogyakarta menunjukkan kekayaan tradisi kuliner yang di wariskan dari generasi ke generasi. Setiap hidangan menghadirkan perpaduan rempah, teknik memasak tradisional, serta cita rasa khas yang mencerminkan budaya Jawa. Hingga kini, gudeg masih menjadi ikon kuliner Yogyakarta, sementara hidangan lain seperti glendhoh, dendeng age, lidah asap, betutu, dan Bir Jawa tetap di kenang sebagai bagian dari sejarah kuliner Keraton Yogyakarta.